• Penanggalan Ibrani

    Desember 2016
    S S R K J S M
    « Okt    
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    262728293031  
  • INFORMASI PENTING

  • Pendapat Anda

    josysuitela di HIPNOTIS ALKITABIAH ATAU …
    josysuitela di HIPNOTIS ALKITABIAH ATAU …

Pengajaran

 

 

PENELITIAN KEBAHASAAN TERKINI
Oleh: David Bivin & Roy Blizzard, Jr. ©

Terjadi revolusi yang menggeser [taking place] pemahaman kita mengenai Kitab Perjanjian Baru. Bersamaan dengan kelahiran kembali Negara Israel pada tahun 1947-1948, munculah penemuan naskah gulungan Laut Mati [Dead Sea Scrolls] yang dramatik. Penemuan yang sangat berharga, naskah-naskah kuno, diikuti beberapa tahun kemudian dengan penemuan surat-surat Bar Khokba, menjadikan sumbangan yang penting bagi pemahaman yang sepenuhnya mengenai tulisan-tulisan Kitab Perjanjian Baru.

Banyak para sarjana di Israel sekarang mengakui bahwa bahasa percakapan dan tulisan orang-orang Yahudi di Tanah Israel pada zaman Yahshua, adalah bahasa Ibrani; dan bahwa Kitab Besorah/Injil Sinoptik berasal dari sumber-sumber berbahasa asli Ibrani.

Para sarjana tersebut, yang mahir dalam bahasa Yunani dan Ibrani, telah mengusulkan pemecahan persoalan secara mengesankan [impressive solutions] bagi persoalan-persoalan utama penafsiran Kitab Perjanjian Baru. Beberapa penemuan yang penting yang telah mereka buat, guna menerangi atau menjelaskan corak percakapan yang amat khas Ibrani yang dipergunakan Yahshua dan para pengikut-pengikut-Nya serta membuat terjemahan Kitab Besorah/Injil menjadi seakurat mungkin. Dengan pemahaman baru mengenai bahasa percakapan Yahshua, para sarjana sekarang mampu mengoreksi sejumlah kekeliruan penerjemahan Kitab Perjanjian Baru dalam teks bahasa Inggris.

Akhir-akhir ini Jehoshua M. Grintz menuliskan artikel dengan judul, “Hebrew as the Spoken and Written Language in the Last Days of the Second Temple” [Grintz 1960]. Didasarkan pada studi terjadap Besorah MatitYah/Injil Matius dan berbagai literatur yang sezaman dengan Kitab Besorah/Injil, Grintz menegaskan sbb: Bahasa Ibrani hanyalah satu-satunya bahasa tulisan pada masa itu; oleh satu-satunya kenyataan ini, maka kita dapat menghubungkan fakta bahwa sekte baru yang merupakan “orang biasa yang tidak terpelajar” [Kis 4:13] telah menuliskan kitab yang ditujukan bagi kalangan orang-orang Yahudi, dalam bahasa Yahudi” [Grintz 1960:46]. Selanjutnya Grintz menekankan sbb, “Selanjutnya, Bahasa Ibrani merupakan wahana utama dalam percakapan [main vehicle of speech] di kalangan Yahudi Palestina atau sekurang-kurangnya di Yerusalem dan Yudea”. Grintz menyediakan bukti-bukti terhadap pernyataannya dengan kisah- yang relevan, sebagaimana dikisahkan dalam Talmud [Nedarim 66 b] mengenai kesukaran orang-orang Yahudi yang berbicara bahasa Aramaik yang berasal dari Babilon ketika berkomunikasi dengan istri mereka yang merupakan penduduk Yerusalem [Grintz 1960:46-47].

Professor David Flusser dari Hebrew University di Yerusalem dan otoritas pemimpin Yahudi dunia mengenai Kitab Perjanjian Baru dan Kekristenan mula-mula, memegang teguh pandangan bahwa kehidupan Yahshua mula-mula disusun dalam bahasa Ibrani. Dia menyatakan bahwa ada ratusan Semitisme [idiom Semitik] dalam Kitab Besorah/Injil yang hanya dapat dipahami dalam bahasa Ibrani, namun tidak ada Semitisme yang hanya dapat dipahami dalam bahasa Aramaik tanpa bahasa Ibrani yang baik.

DR. Moshe Bar Asher, yang mewarisi reputasi terkini dari Professor Yehezkiel Kutscher sebagai sarjana Aramaik terkemuka di Hebrew University, mengatakan, bahwa dia percaya jika Kitab Besorah/Injil Sinoptik, merupakan terjemahan bahasa Yunani dari dokumen bahasa Ibrani yang asli [bukan Aramaik!].

DR. Pinhas Lapide, Direktur the School for Translators and Interpreters di Bar Ilan University di Tel Aviv, telah menuliskan sebuah artikel berjudul, “The Missing Hebrew Gospel” [Lapide 1974]. Dalam artikel ini dia mendiskusikan bahasa asli Ibrani dari kitab-kitab Besorah/Injil. DR. Lapide yang seorang sarjana yang fasih dan menguasai beberapa bahasa mengatakan pendapatnya sbb:

“Tidak kurang pentingnya fakta yang dihasilkan dari dokumen berikut ini yang ditemukan di Muraba’at, Nahal Heber dan Masada, bahwa sepanjang abad Kekristenan awal [dan kemudian], pokok-pokok agama dituliskan terutama dalam bahasa Ibrani” [Lapide, 1974:169]

DR. Lapide menyimpulkan sbb:

“Abad lampau telah memberikan kesaksian mengenai penemuan yang tidak terduga dari sejumlah tulisan harta karun seperti di Genizah Kairo dan gua-gua Qumran serta Muraba. Bukanlah tidak mungkin bahwa penggali belum menemukan sebuah fragmet dari Kitab Besorah/Injil bahasa Ibrani yang mula-mula yang ditujukan pada orang-orang Yahudi” [Lapide 1974: 170]

Para sarjana dari luar Israel pun telah sampai pada kesimpulan bahwa bahasa dari Yahshua adalah bahasa Ibrani. Salah satunya adalah Harris Birkeland seorang Norwegia. Dalam artikelnya yang berjudul, “The Language of Jesus”, Birkeland menantang pandangan zaman ini [curret view] bahwa Yahshua berbicara dalam bahasa Aram. Dalam kesimpulannya, beliau mengatakan: “Bahasa umum penduduk Palestina di masa Yahshua adalah bahasa Ibrani”. Selanjutnya dia meneruskan: “Kesimpulan saya selanjutnya…bahwa Yahshua benar-benar menggunakan bahasa Ibrani, nampaknya tidak terbantahkan” [Birkeland, 1954:39].
William Sanford LaSor, professor emeritus pada Fuller Theological Seminary di Pasadena, California, merupakan sarjana terkemuka mengenai kesemitikan. Dalam kajiannya yang dirilis di Yerusalem pada Tgl 24 April 1982, dia menyatakan sbb:

“Bersamaan dengan penemuan Gulungan Laut Mati, sekarang nampak sangat mungkin bahwa bahasa percakapan Yahshua adalah bahasa Ibrani dan bukan Aramaik. Sekte-sekte Qumran bukan hanya menulis komentar-komentar mereka tentang Kitab Suci, dalam bahasa Ibrani namun petunjuk bagi anggota baru [the Manual of Discipline] dan buku-buku yang mengatur kehidupan komunitas seperti Damascus Covenant, juga dituliskan dalam bahasa Ibrani”

Professor Frank Cross dari Harvard University, nampaknya yang berwewenang dalam penelitian mengenai tulisan tangan naskah Gulungan Laut Mati. Professor Cross menyatakan bahwa melalui penelitian tulisan-tulisan tangan dari berbagai penyalin yang menggandakan gulungan melampaui abad-abad Qumran, dapat terlihat bahwa bahasa yang paling dominan di Palestina, sekitar permulaan tahun 130 SM, adalah bahasa Ibrani. Karena, setelah tahun 130 SM, para penyalin Qumran tidak lagi melakukan kekeliruan ketika menyalin teks bahasa Ibrani. Cross menetapkan bahwa bahasa utama adalah bahasa Ibrani dan mereka memiliki pemahaman yang lemah mengenai tata bahasa dan tata kalimat Aramaik.

Sarjana cerdas lainnya yaitu Abbe J.T. Milik, seorang imam Polandia yang terkenan di kalangan para ilmuwan dan arkeolog. Dia merupakan salah satu penggali Qumran dan anggota aktif dari tim internasional yang menyiapkan gulungan-gulungan dari Gua IV untuk dipublikasikan. Setelah analisis yang hati-hati terhadap semua bahan-bahan tertulis dari Gurun Yudea, aka Milik menyimpulkan sbb:

“Gulungan-gulungan dari perak dan dokumen-dokumen dari Revolusi Kedua, membuktikan yang melampaui keraguan yang masuk akal bahwa Misnaik [bahasa Ibrani] merupakan bahasa wajar masyarakat Yudea di masa Romawi” [Milik 1963:130].

Kesimpulan-kesimpulan para sarjana di atas, akan lebih berbobot [more weight] ketika dihubungkan dengan sumber-sumber dari luar Kitab Besorah/Injil [extra biblical], sebagaimana yang dihadirkan dalam pasal berikutnya.

© Diterjemahkan dari Understanding the Difficult Words of Jesus: New Insight From a Hebraic Perspective, [Chapter III, Recent Linguistic Research] David Bivin & Roy Blizzard. Jr., Shippensburg: Destiniy Image Publishers, Ohio: Center for Judaic-Christan Studies, 1994. Penerjemahan oleh Teguh Hindarto, MTh., Forum Study Messianica

FORUM STUDY MESSIANICA

 

Nama TUHAN yang disembunyikan

Banyak orang Kristen yang tidak tahu siapa nama BAPA yang disembah Yesus/Yeshua Ha Massiah. Sehingga ketika disebutkan nama-NYA terasa asing ditelinga, bahkan terkesan takut sesat. Padahal jelas sekali bila kita perhatikan nama asli Yesus/Yeshua itu mengandung dua kata, Ye dan Shua. Dalam bahasa Ibrani tidak ada huruf vokal maka huruf Y selalu diidentikan/menunjuk kepada YHWH sedangkan Shua berarti keselamatan. Maka nama Yeshua berarti YHWH keselamatanku atau dalam terjemahan Indonesia TUHAN keselamatan. Mengapa banyak orang Kristen tidak tahu nama BAPA? karena kata YHWH sudah diganti menjadi kata TUHAN atau ALLAH dalam terjemahan Alkitab.
Mengapa nama itu diganti dengan gelar atau sebutan TUHAN/ALLAH? padahal penggantian itu jelas tidak sesuai dengan arti dan maksud teks ASLInya. Proses pergantian nama YHWH menjadi TUHAN/ALLAH nampaknya tidak terlepas dari unsur politik. Indonesia sebagai negara yang dipengaruhi Arab sangatlah anti terhadap hal yang berbau Yahudi. Sebab itu nama YHWH atau Elohim yang bernuansa Yahudi “dikontekstualkan” dengan iklim agama mayoritas di Indonesia. Akibatnya banyak orang-orang Kristen yang tidak tahu siapa nama TUHAN pencipta dan BAPA dari Yeshua Ha Masiah?Yesus. Maka Nama Yang Agung dan Mulia itu terlupakan dan tersia-siakan, padahal Firman Tuhan berkata,”Janganlah kamu menyia-nyiakan nama YHWH Elohimmu” (Keluaran 20:7).

Pengajaran kali ini akan membahas dan mengeksposisi perintah ke tiga dari Sepuluh Perintah TUHAN (Ten Commandment). Silahkan menyimak dan ditunggu komentar Anda. YHWH memberkati di dalam Yeshua Ha Massiah. Amin

Shemote (Exodus) 20:7

7 “You shall not take the name of יהוה your Elohim in vain, for יהוה will not hold him guiltless who takes His name in vain.

The Third Commandment

The Third Commandment is the commandment not to take our Creator’s name in vain. We will look at the New King James Version here:

Shemote (Exodus) 20:7
7 “You shall not take the name of The Lord your God in vain, for The Lord will not hold him guiltless who takes His name in vain.”
NKJV

Most believers understand this to be a commandment not to use the Creator’s name in an irreverent manner, and not to swear falsely in the Creator’s name. These are clearly things our Creator does not want us to do. However, if we study the word ‘vain’, we can see that it implies other prohibitions as well.

The word ‘vain’ is Strong’s OT #7723, ‘shawv’ שׁוא. This word implies a prohibition against ‘making His name desolate,’ or allowing His name to ‘lay in ruin.’

Strong’s OT:7723 shav’ (shawv); or shav (shav); from the same as OT:7722 in the sense of desolating; evil (as destructive), literally (ruin) or morally (especially guile); figuratively idolatry (as false, subjective), uselessness (as deceptive, objective; also adverbially, in vain):
When we look up the reference at Strong’s OT 7722, we see that it refers to ‘rushing over’ something like a tempest, in such a way as to destroy it, or devastate it.

OT:7722 show’ (sho); or (feminine) show’ah (sho-aw’); or sho’ah (sho-aw’); from an unused root meaning to rush over; a tempest; by implication, devastation.

When our Creator tells us not to take His name in vain, He is not only commanding us not to misuse His name, but He is also telling us not to let His name become devastated by allowing His name to ‘lie in waste,’ or by ‘bringing His name to nothing.’ However, this is what many people do (perhaps completely unintentionally), when they do not use our Creator’s Hebrew name.

Tehillim (Psalms) 91:14
14 “Because he has set his love upon Me, therefore I will deliver him; I will set him on high, because he has known My name.”

Psalms 91 tells us that there are rewards for knowing our Creator’s name. He also tells us that He wants His true name made known. Indeed, He tells us that one of the reasons He raised up Pharaoh was just precisely so that His name would be declared in all the earth.

Shemote (Exodus) 9:16
16 “But indeed for this purpose I have raised you up, that I may show My power in you, and that My name may be declared in all the earth!”
So then, if our Creator wants His name made known in all the earth, and if there are rewards for knowing and using our Creator’s name, then what is our Creator’s name?

Many believe our Creator’s name is ‘The Lord,’ or ‘The Lord God.’ However, the Hebrew language does not support this translation. The first time the Creator’s name is used is in Genesis 4:26, where it is spelled in Hebrew, Yod-Hay-Vav-Hay, or יהוה.

Genesis 4:26
Then men began to call on the name of YHWH.

אָז הוּחַל לִקְרֹא בְּשֵׁם יְהוָה

Endless debates rage about the exact manner in which to pronounce our Creator’s name. While there may always be disagreement on this issue as long as men live, the majority of scholars agree that the name יהוה is pronounced something similar either to ‘Yahweh,’ ‘Yahuweh’ or ‘Yahueh’.

Yod י pronounced like ‘y’, ‘i’ or ‘ee’
Hay ה pronounced like an ‘h’
Vav ו pronounced either as a ‘v’, a ‘w’ or a ‘u’,
depending on context. Here it is as a ‘u’.
Hay ה pronounced like an ‘eh’.

Other pronunciations exist, including Yahveh, Yehovah, Yahovah, Yahuwah and others, and it is difficult (if not impossible) to say which pronunciation is ‘most’ correct, since the ancient form of the Hebrew script did not use vowel points.
In the West, many people have learned to pronounce the Creator’s name as ‘Jehovah.’ One can see how this pronunciation is derived, since it approximates the pronunciation Yehovah fairly well. However, there is not now, nor has there ever been any letter ‘J’ (or any ‘j’ sound) in the Hebrew language, so ‘Jehovah’ cannot really be His true Hebrew name.

Bemidbar (Numbers) 6:23-27
23 “Speak to Aharon and his sons, saying, ‘This is the way you shall bless the children of Israel. Say to them:
24 “YHWH bless you and keep you;
25 YHWH make His face shine upon you, and be gracious to you;
26 YHWH lift up His countenance upon you, and give you peace.”‘
27 “So they shall put My name on the children of Israel, and I will bless them.”

YHWH tells us that His priests are to put His name on His people, and that He will bless them. Therefore, in order to receive His blessing, we need His name put upon us.

That blessings come from having His name put upon us may be one reason why Israelites used His name in everyday greetings and blessings in the days before the Exile to Babylon.

Ruth 2:4
4 Now behold, Boaz came from Bethlehem, and said to the reapers, “YHWH be with you!” And they answered him, “YHWH bless you!”
The prophet Joel also tells us that whosoever calls upon the name of YHWH shall be saved.

Yoel (Joel) 2:32
32 And it shall come to pass that whoever calls on the name of YHWH shall be saved.

In many ways, and in many places, Scripture tells us that YHWH wants us to know His name, to call on His name, and to make His name known. However, Israel has suffered many invasions and deportations over the years, and some of Israel’s tormentors have mocked the Israelite practice of pronouncing YHWH’s name, as is commanded in the Torah.

In order to keep the gentile nations from blaspheming YHWH’s name, the Jewish rabbis enacted what are sometimes called the ‘Fence Laws’. These Fence Laws are additional laws that the rabbis have put on the people to keep them from breaking the Torah. Ironically, however, the result is that sometimes they end up leading the people to break the Torah.

For example, YHWH tells us that He wants us to speak and declare His name. However, in order to keep people from blaspheming His name, the rabbis declared that only priests could declare His name, and even then only within the confines of the Temple (e.g. Talmud Tractate Yoma 69b:7). Additionally, in the Second Temple times (Yeshua’s time) the established ruling was that whosoever would speak YHWH’s name aloud should be put to death (Talmud Tractate Sanhedrin 56a:28). Thus, by adding to the Torah, the rabbis actually caused YHWH’s people Israel to break the Torah.
In order to keep the people from speaking YHWH’s name, the rabbis decreed that the term ‘Adonai’ is to be substituted for the Divine Name (e.g., Talmud Tractate Kiddushin 71a:21-24). Additionally, the rabbis also teach the use of the substitute term ‘HaShem’ (which means simply, “the Name”). However, while Adonai and HaShem do refer to YHWH, neither of these are His name, and so neither of these fulfills the commands to speak His name, and to put His name on His people. It also goes contrary to His desire that His name be put on His people, so He might bless them.

Shemote (Exodus) 20:7
7 “You shall not take the name of יהוה your Elohim in vain, for יהוה will not hold him guiltless who takes His name in vain.”

(7) לֹא תִשָּׂא אֶת שֵׁם יְהוָה אֱלֹהֶיךָ לַשָּׁוְא | כִּי לֹא יְנַקֶּה יְהוָה אֵת אֲשֶׁר יִשָּׂא אֶת שְׁמוֹ לַשָּׁוְא

It is important for us to remember that the Third Commandment command us to hide His name in order to keep the gentiles from blaspheming it. Instead, it tells us that YHWH will not hold guiltless the man who takes His name in vain (or makes it lie desolate).

However, the rabbis are not the only ones who have allowed YHWH’s name to lie desolate. In most English versions of the Tanach (the ‘Old’ Testament), the name ‘Lord’ has been substituted for YHWH’s name 6,823 times. Not only does this break YHWH’s intention that we make His name known in all the earth, but it also desecrates His name. This is because the name ‘Lord’ is actually the English translation of the name of the Canaanite deity “Ba’al” (בַּעְל).
Strong’s OT:1167 ba`al (bah’-al); from OT:1166; a master; hence, a husband, or (figuratively) owner (often used with another noun in modifications of this latter sense):

KJV – archer, babbler, bird, captain, chief man, confederate, have to do, dreamer, those to whom it is due, furious, those that are given to it, great, hairy, he that hath it, have, horseman, husband, lord, man, married, master, person, sworn, they of.

In Hosea 2:16-17, YHWH tells the Ephraimites that they will call Him “Ba’al” (Lord), but that He will take the name “Ba’al” (Lord) out of their mouths.

Hosea 2:16-17
16 “And it shall be, in that day,” says YHWH, “That you will call Me ‘My Man,’ and no longer call Me ‘My Ba’al (Husband, Lord),’
17 For I will take from her mouth the names of the Ba’als, and they shall be remembered by their names no more.”

(18) וְהָיָה בַיּוֹם הַהוּא נְאֻם יְהוָה תִּקְרְאִי אִישִׁי | וְלֹא תִקְרְאִי לִי עוֹד בַּעְלִי:
(19) וַהֲסִרֹתִי אֶת שְׁמוֹת הַבְּעָלִים מִפִּיהָ | וְלֹא יִזָּכְרוּ עוֹד בִּשְׁמָם

Those who call YHWH “The Lord” are actually calling Him by the name of Ba’al!
In light of the fact that most English versions translate YHWH’s name as ‘The Lord,’ and since ‘Lord’ is the English name for Ba’al (בַּעְל), the story of Elijah and his showdown with the Priests of Ba’al (the priests of ‘The Lord’) takes on a whole new significance.

1 Kings 18:21-22
21 And Elijah came to all the people, and said, “How long will you falter between two opinions? If YHWH is Elohim, follow Him; but if Ba’al, follow him.” But the people answered him not a word.

22 Then Elijah said to the people, “I alone am left a prophet of YHWH; but Baal’s prophets are four hundred and fifty men.

(21) וַיִּגַּשׁ אֵלִיָּהוּ אֶל כָּל הָעָם וַיֹּאמֶר עַד מָתַי אַתֶּם פֹּסְחִים עַל שְׁתֵּי הַסְּעִפִּים אִם יְהוָה הָאֱלֹהִים לְכוּ אַחֲרָיו וְאִם הַבַּעַל לְכוּ אַחֲרָיו | וְלֹא עָנוּ הָעָם אֹתוֹ דָּבָר:
(22) וַיֹּאמֶר אֵלִיָּהוּ אֶל הָעָם אֲנִי נוֹתַרְתִּי נָבִיא לַיהוָה לְבַדִּי | וּנְבִיאֵי הַבַּעַל אַרְבַּע מֵאוֹת וַחֲמִשִּׁים אִישׁ

One of Elijah’s rebukes to the people was that they were calling YHWH by the name Ba’al/Lord. Yes, most English versions used by the House of Ephraim today still render YHWH’s name as ‘The Lord’! Thus they call YHWH by the name of a false Canaanite deity, which is really a form of idolatry.

Shemote (Exodus) 20:3
3 “You shall have no other elohim before Me.”
Some people believe that it makes no difference what we call YHWH. Some believe we can call Him YHWH, the Lord, Allah, the Lord God, or what-have you, and that it is all the same name. However, if it truly makes no difference what we call YHWH, then why would it not be OK to call Him Satan?

Ma’asim (Acts) 4:12
12 Nor is there salvation in any other, for there is no other name under heaven given among men by which we must be saved.”

If there is only one name under heaven by which men may be saved, then why would there be more than one name of the Father? Further, if there is only one name under heaven by which men must be saved, then what is that name?

In the West, our Messiah is commonly called ‘Jesus Christ.’ However, the title ‘Christ’ is not a Hebrew word. Rather, it derives from the name of ‘Krishna,’ the Hindu god of war. The Greeks adopted ‘Krishna’ into their pantheon, and they later used the term ‘Christos’ to refer to the Messiah. However, even if Greeks and other westerners do not see any significant difference between the terms Krishna and Messiah, this does not mean that the terms ever became synonymous in Hebraic thought.

Westerners tend to place little emphasis on words and their sounds, believing that a rose (by any other name) smells just as sweet. However, in Hebraic thought, words and their sounds are extremely important, for it was through words that the Creator called the world into being.
Mattai (Matthew) 4:4
4 But He answered and said, “It is written, ‘Man shall not live by bread alone, but by every word that proceeds from the mouth of Elohim (G-d).'”

The earth does not exist except for the words of the Almighty, and men do not live by their own will. Rather, each man’s existence hangs on Elohim’s words. Thus, a Hebrew knows that words and their sounds are vital.

As we learned earlier, there is no letter ‘J’ (or any ‘J’ sound) in the Hebrew language. Because of this, the Messiah’s actual name in Hebrew cannot be ‘Jesus.’ So, if we love our Messiah, then we should want to honor Him, by learning to speak His name properly. Also, we should want to call on the one true name under Heaven by which men must be saved.

Many people know that the Messiah’s name is actually the same as that of Joshua, the son of Nun. Joshua’s name (יהושוע) was originally pronounced ‘Yehoshua’ (or some say ‘Yahushua’) in Hebrew. However, much historical, archaeological and Scriptural evidence indicate that our Messiah was called by the popular short-form of this name in the first century. That short form was pronounced ‘Yeshua’ (“Yeh-Shoo-ah” or “Yeh-shoo-ah”). The way this short-form (‘Yeshua’) was arrived at is as follows.

Joshua the son of Nun was originally named ‘Hosea’ (Numbers 13:8, 16). This name means ‘Salvation.’ Moshe HaNavi (Moses the Prophet) then renamed Hoshea as ‘Yah-Hoshea’ (Yehoshua, or Joshua), which means ‘YHWH shall save His people.’ It also means, “The Salvation of YHWH,” or “YHWH saves.”
In the Tanach (the ‘Old’ Covenant), Yehoshua’s name is spelled twice in its full six-letter form (יהושוע). When spelled in this full six letter form, this name is properly pronounced ‘Yehoshua’ (or some say “Yahushua”). However, since Hebrews treasure economy of effort, they later abbreviated this name.

The six-letter form Yehoshua (יהושוע) was shortened from six letters to five (יהושע). Even though the second Vav (ו) was dropped, the pronunciation remained the same, because vowel points simulating the sound of the second Vav (ו) were added to the letter Shin (שֻ). Thus, יהושוע and יהושֻע are both pronounced exactly the same way: Yehoshua. However, this was only the first of the changes our Messiah’s name went through.

In Hebraic thought, names beginning in יה (‘Yah’) or יהו (‘Yahu’ or ‘Yeho’) are considered to contain the Divine Name. In keeping with their practice of hiding YHWH’s name, the rabbis also ruled that any name beginning in יה or יהו should have all but the beginning Yod (י) removed.

When the rabbis went to compress the name Yehoshua (יהושע), they took out the הו, but they also restored the second Vav (ו). Thus, while the front end was shortened from יהו to י, the back end was restored to שוע (meaning ‘saves’).

Due to this elaborate progression of changes, the name ‘Joshua’ is spelled in various ways. Beginning with a six letter form (יהושוע), it then progressed to a shorter five letter form (יהושע), and ultimately ended up being spelled in the shortened four letter form (ישוע) that was commonly used after the Babylonian Exile. Thus, the Messiah’s name went from:
יהושוע = Yehoshua
יהושוע = Yehoshua
יהושע = Yehoshua
יהושוע = Yehoshua
ישוע = Yeshua

Such post-Babylonian books as Nehemiah and Ezra record that this shortened four letter form (ישוע) was used during the Second Temple Period (in which the Messiah lived):

Nehemiah 8:16-17
17 So the whole assembly of those who had returned from the captivity made booths and sat under the booths; for since the days of Yeshua the son of Nun until that day the children of Israel had not done so.

(17) וַיַּעֲשׂוּ כָל הַקָּהָל הַשָּׁבִים מִן הַשְּׁבִי סֻכּוֹת וַיֵּשְׁבוּ בַסֻּכּוֹת כִּי לֹא עָשׂוּ מִימֵי יֵשׁוּעַ בִּן נוּן כֵּן בְּנֵי יִשְׂרָאֵל עַד הַיּוֹם

However, the Messiah’s name is also spelled in its five-letter form in Ezra and Nehemiah, so both forms were used concurrently at the time when these books were written, over 400 years before Yeshua. Nonetheless, the shortened four-letter form (ישוע) is the one used in the Aramaic Peshitta.

Beyond restoring the true names of the Creator and Son there are also other terms it is important to know. The English term for our Creator is ‘God.’ While this term is almost universally understood in English, there is a problem, in that this term is not the original Hebrew term, but is the name of a Germanic sun deity, “Gott.”
In Hebrew, the word for ‘God’ is pronounced “Elohim” (אלהים). There are also legitimate variations of this title, including simply “El” (אל).

In Hebrew, the term Elohim (אלהים) means “The Strong Ones,” or “The Mighty Ones.” In Hebrew, this word is a plural (since words that end in –ים are usually masculine plurals). We explain this concept in more detail in the study “Manifestation of Elohim.”

Finally, it can also be helpful to understand more about the Hebraic term for the Laws of Moses.

In Hebrew, the Laws of Moses are called the ‘Torah’ (תורה). Although the commandments of our Creator do carry the weight of law, the term תורה means not so much ‘Law’ (per se) as it means ‘Instructions.’ In this case, it means, ‘The Bride’s Instructions.’

The word Torah (תורה) is related to the verb, ‘to shoot.’

Strong’s OT:8451 towrah (to-raw’); or torah (to-raw’); from OT:3384; a precept or statute, especially the Decalogue or Pentateuch:
KJV – law.

Here is the reference to Strong’s OT 3384:

Strong’s OT:3384 yarah (yaw-raw’); or (2 Chronicles 26:15) yara’ (yaw-raw’); a primitive root; properly, to flow as water (i.e. to rain); transitively, to lay or throw (especially an arrow, i.e. to shoot); figuratively, to point out (as if by aiming the finger), to teach:
KJV – (+)archer, cast, direct, inform, instruct, lay, shew, shoot, teach (-ering,-), through.

The idea of Torah (תורה) has less to do with observing a set body of rules and regulations (do’s and don’ts), as it has to do with living one’s life in the right way. It speaks of improving one’s abilities as a servant of the Most High, so as to be able to ‘hit the mark’ (as an archer might be expected to do).

While it is correct to translate the word Torah (תורה) as ‘Law’ (in that the Creator’s Words do carry the weight of Law), the word Torah more accurately translates as the English word ‘Instruction’ (or perhaps, ‘Training’).

Mishle (Proverbs) 22:6
6 Train up a child in the way he should go, and when he is old he will not depart from it.

Parents instinctively understand the importance of raising up their children in the way they should go, so that when they are old, they will not depart from it. They also understand the importance of training their children to be wise. This is much more than just teaching one’s children to obey set body of do’s and don’ts, as codified in a book of law. Rather, the point is to help one’s children to become wiser, sharper adults who will honor both parents and the Creator.

Finally, we should mention that while it is important to speak and teach in all the truth we have been given, it is also important not to judge others who have not had these same truths revealed to them.
Many people have been saved while calling on the wrong names, and the fruits of the Spirit have been made manifest in their lives. We should be careful not to judge our Father’s other servants, lest we fall into judgment.

May true the name of יהוה of Hosts be restored among His people Israel, and may it be glorified and magnified among all the nations of the world.

In the name of ישוע our Messiah,

Amein.

YESUS, YAHUDI, YUDAISME
Create By Teguh Hindarto
Dalam Ibrani 7:14 dikatakan sbb: “Sebab telah diketahui semua orang, bahwa (Junjungan Agung) kita berasal dari suku Yehuda dan mengenai suku itu Musa tidak pernah mengatakan suatu apa pun tentang imam-imam”. Secara antropologis (aspek kemanusiaan) Yesus adalah manusia yang terlahir dalam bingkai budaya Semitik Yudaik. Dia adalah Mesias Yahudi. Namun mengapa jika Yesus adalah Mesias Yahudi, kita tidak menemukan jejak atau ekspresi Keyahudian dalam ekspresi ibadah maupun ungkapan pokok-pokok iman kita? Sebaliknya, justru kita melihat berbagai ekspresi penghayatan yang bersifat Eropa, Amerika, Yunani tentang Yesus dalam komunitas-komunitas Kristen. Ekspresi-ekspresi ibadah dan ungkapaan iman tersebut nampak dalam hal-hal berikut: Perayaan Christmass yang sarat dengan konsumerisme, perayaan Easter yang sarat dengan kegiatan pernak-pernik mewarnai telur, Ibadah hari Minggu sebagai pertemuan ibadah kekristenan, kontroversi penggunaan istilah Trinitas dalam konsep Ketuhanan, ketiadaan syariah agama, yang terekspresi dalam berbagai bentuk kebebasan dalam memakan segala makanan, kebebasan dalam menggunakan pakaian, ketiadaan tertib tertentu dalam berdoa dan menghadap Tuhan, dll.

Sebelum kita mendalami lebih jauh hilangnya ekspresi Keyahudian yang seharusnya dimiliki pengikut Mesias diseluruh dunia, marilah kita mendalami lebih jauh mengenai Keyahudian Yesus. Dengan menyatakan aspek Keyahudian Yesus, bukan berarti kita meniadakan aspek Ontologis Yesus sebagai Sang Firman yang menjadi manusia, namun kita hendak mendalami aspek Anthropologis Yesus sebagai Firman yang menjadi Manusia. Manusia Ilahi itu lahir dalam konteks ruang dan waktu, yaitu Yerusalem yang dijajah dan dikuasai Pemerintahan Romawi. Konteks kebudayaan dan keagamaan tertentu, yaitu Yahudi dan Yudaisme. Firman yang menjadi manusia demi tugas penyelamatan dunia dan manusia, demi memperdamaikan perseteruan antara manusia dengan Tuhan itu, tidak lahir dalam ruang kosong yang bersifat metahistoris. Dia datang dalam suatu lingkup kehidupan, peradaban dan kebudayaan serta peradaban Yahudi dan Yudaisme.

NUBUAT MENGENAI “KENAF” DAN “ISH YEHUDI”
DALAM ZAKARIA 8:23

Kedatangan Mesias yang dijanjikan oleh YHWH Bapa Surgawi, Sang Pencipta Semesta, melalui mulut para nabi, sangat intensif disebutkan dalam TaNaKh. Salah satu dari nubuat tersebut memberikan identifikasi mengenai GARIS ETNIS Mesias. Dalam Zakaria 8:21-23 dikatakan:

Beginilah firman YHWH Semesta Alam: “Masih akan datang lagi bangsa-bangsa dan penduduk banyak kota. Dan penduduk kota yang satu akan pergi kepada penduduk kota yang lain, mengatakan: Marilah kita pergi untuk melunakkan hati YHWH dan mencari YHWH Semesta Alam! Kami pun akan pergi! Jadi banyak bangsa dan suku-suku bangsa yang kuat akan datang mencari YHWH Semesta Alam di Yerusalem dan melunakkan hati YHWH.” Beginilah firman YHWH semesta alam: “Pada waktu itu sepuluh orang dari berbagai-bagai bangsa dan bahasa akan memegang kuat-kuat punca jubah seorang Yahudi dengan berkata: Kami mau pergi menyertai kamu, sebab telah kami dengar, bahwa Tuhan menyertai kamu!”

Frasa “Pada waktu itu sepuluh orang dari berbagai-bagai bangsa dan bahasa akan memegang kuat-kuat punca jubah seorang Yahudi…” dalam teks Ibrani berbunyi sbb: : “Bayamim hahemmah asher yakhziqu asyarah anashim mikol leshonot hagoyim wehekheziqu biknaf ish Yehudi…”. Ada dua kata penting dalam ayat 23,yaitu “punca jubah” (kenaf) dan “orang Yahudi” (Ish Yehudi).

76

Apa yang dimaksudkan dengan kata “kenaf?” Istilah punca jubah, akan dipahami maknanya, jika kita memahami latar belakang perintah Yahweh bagi Bangsa Israel dalam Bilangan 15:37-40 sbb: “YHWH berfirman kepada Moshe: “Berbicaralah kepada orang Yishrael dan katakanlah kepada mereka, bahwa mereka harus membuat jumbai-jumbai pada punca baju mereka, turun-temurun, dan dalam jumbai-jumbai punca itu haruslah dibubuh benang ungu kebiru-biruan. Maka jumbai itu akan mengingatkan kamu, apabila kamu melihatnya, kepada segala perintah YHWH, sehingga kamu melakukannya dan tidak lagi menuruti hatimu atau matamu sendiri, seperti biasa kamu perbuat dalam ketidaksetiaanmu terhadap YHWH. Maksudnya supaya kamu mengingat dan melakukan segala perintah-Ku dan menjadi kudus bagi Tuhanmu“.

Frasa “jumbai-jumbai pada punca baju mereka” dalam teks Ibrani berbunyi, “tsit-tsit al kanfey bigdeyhem” dan frasa “jumbai-jumbai punca itu haruslah dibubuh benang ungu kebiru-biruan” dalam teks Ibrani berbunyi, “al tsit-tsit hakanaf petil tekhelet”. Untuk memudahkan Anda memahami bagaimana bentuk “Tsit-tsit”, silahkan memperhatikan gambar berikut:

Tsit-tsit tersebut dalam bentuk modern, biasanya dirangkai dengan syal atau jubah yang dinamakan Tallit, sebagaimana di bawah ini.

Dan jika dipakai lengkap oleh seorang Yahudi modern, entahkah dia seorang Rabbi atau bukan Rabbi, akan terlihat demikian.

Dari pemaparan di atas dengan disertai ilustrasi, kiranya memudahkan Anda memvisualisasikan sosok manusia Ibrani yang menggunakan Tsit-Tsit. Fungsi Tsit-tsit adalah untuk (uzekartem et kol mitswot Yahweh) mengingat seluruh perintah-perintah YHWH untuk kemudian didorong melakukannya (lema’an tizkeru weasyitem et kal mitsotaiw).

Dengan latar belakang mengenai arti dan penggunaan “Tsit-tsit” pada “kanaf” atau ujung tepi jubah atau pakaian pada tiap-tiap Bangsa Yishrael, maka kita dapat memahami apa yang dimaksudkan dengan kata “punca jubah” dalam Zakaria 8:23, bahwa bangsa-bangsa non Yahudi akan memegang Tsit-tsit tersebut. Ini menubuatkan bahwa bangsa non Yahudi akan mengikuti kepercayaan yang dianut oleh Bangsa Israel pada umumnya dan suku Yahudi khususnya. Keselamatan pertama-tama ditujukan bagi Bangsa Israel itu sendiri, kemudian diperluas kepada bangsa-bangsa lain.

Siapa yang dimaksudkan dengan “Ish Yehudi?” Dialah Mesias yang dijanjikan. Ketika Yesus datang dan berkarya di bumi Palestina dan kembali duduk di sebelah kanan Bapa serta kisah kehidupan dan ucapan atau ajaran-Nya dituliskan dalam keempat Injil, teranglah bahwa tokoh yang dimaksudkan adalah Yesus sendiri. Yesus adalah “Ish Yehudi” yang diamksudkan dalam Zakaria 8:23.

BUKTI-BUKTI BAHWA YESUS ADALAH ISH YEHUDI

Apakah bukti-bukti yang menguatkan bahwa Yesus adalah “Ish Yehudi?” Pertama, garis silsilah Yesus (Mat 1:1-17, Luk 3:23-28). Silsilah yang dilaporkan oleh Matius mengambil garis Yesus dari Salomo anak Daud, Raja Israel (Mat 1:6) dan jika ditarik terus ke atas, sampailah pada leluhur Mesias, yaitu Yahuda yang merupakan anak Yakub, anak Ishak, anak Abraham, sebagai anak pewaris perjanjian kekal Yahweh dengan keturunan Abraham. Sementara silsilah yang dilaporkan Lukas mengambil garis dari Natan anak Daud yang lain (Luk 3:32), hingga sampai Avraham dan terus sampai kepada Adam. Asal-usul kesukuan Yesus ditegaskan kembali dalam Ibrani 7:14, “Sebab telah diketahui semua orang, bahwa (Junjungan Agung) kita berasal dari suku Yahuda dan mengenai suku itu Moshe tidak pernah mengatakan suatu apa pun tentang imam-imam”.

Kedua, gaya berpakaian yang mencirikan seorang Yahudi. Dilaporkan dalam Matius 9:20, “Pada waktu itu seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan (zavat dam) maju mendekati Yahshua dari belakang dan menjamah jumbai jubah-Nya”. Apa yang dimaksudkan dengan “jumbai jubah-Nya?” Itulah ujung tepi jubah dimana terikat Tsit-tsit yang mencirikan seorang laki-laki Yahudi berpakaian. Kita tidak tahu apakah perempuan ini seorang Yahudi atau non Yahudi, namun nubuatan Zakaria secara tidak langsung genap dalam diri Yesus.

Ketiga, Mengalami prosesi Brit Millah atau Sunat pada hari ke delapan, sesuai Torah, sebagai bagian dari tanda fisik perjanjian antara keturunan Avraham dengan YHWH Semesta Alam. Lukas 2:21-24 melaporkan, “Dan ketika genap delapan hari dan Dia harus disunatkan, Dia diberi nama Yahshua, yaitu nama yang disebut oleh malaikat sebelum Dia dikandung ibu-Nya. Dan ketika genap waktu pentahiran , menurut Torah Musa, mereka membawa Dia ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Yahweh, seperti ada tertulis dalam Torat YHWH: “Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Tuhan”, dan untuk mempersembahkan korban menurut apa yang difirmankan dalam Torat YHWH, yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati.

Keempat, mengalami prosesi Bar Mitswah dalam Lukas 2:41-52, di mana Yahshua mulai muncul pada usia 12 tahun dan kemunculan di usia 12 tahun itu dimulai di Bait Suci, saat kedua orang tuanya melaksanakan perayaan tahunan Pesakh.

Kelima, membaca Torah dan beribadah Sabat. Dikatakan dalam Lukas 4:16, ”Dan datang ke Nazaret tempat Dia dibesarkan, dan menurut kebiasaan-Nya pada hari Sabat Dia masuk ke Sinagog, lalu berdiri hendak membaca dari Gulungan Kitab”. Yesus melakukan Aliyah (menaikkan Torah) di Sinagog Yahudi yang jatuh pada tiap hari Shabat.

Keenam, melaksanakan Sheva Moedim atau Tujuh Hari Raya yang ditetapkan YHWH. Sheva Moedim artinya Tujuh Hari Raya yang merupakan ketetapan Yahweh (Imamat 23:1-44). Sheva Moedim bukan hanya merupakan perayaan panen, namun suatu perayaan momentum perbuatan Yahweh bagi umat-Nya di masa lalu serta perayaan yang bersifat propetik Mesianik. Nama ketujuh Hari Raya tersebut adalah: Pesakh , Hag ha Matsah (Roti Tidak Beragi), Hag Sfirat ha Omer (Buah Sulung), Hag Shavuot (Pentakosta), Hag Rosh ha Shanah/Yom Truah (Tahun Baru/peniupan Sangkakala), Hag Yom Kippur (Pendamaian) dan Hag Yom Sukkot (Pondok Daun)

80

Dari ketujuh Hari Raya tersebut, ada tiga Hari Raya besar yang diperingati setiap tahun dengan berkumpul di Yerusalem, yaitu Pesakh, Shavuot dan Sukkot (Ulangan 16:16-17). Kitab Perjanjian Baru (Brit ha Khadasha) mencatat tiga perayaan penting tersebut dihadiri oleh Yahshua, baik saat Yesus mulai beranjak remaja maupun sudah mulai dewasa dan melakukan karya Mesianik-Nya. Yesus menghadiri Perayaan Pesakh bersama kedua orang tua-Nya (Luk 2:41-42). Yesus merayakan Sukkot bersama murid-murid-Nya (Yoh 7:1-13).

8

Kesimpulan apakah yang dapat kita peroleh setelah kita melakukan induktifikasi data sebagaimana telah dilakukan di atas? Bahwasanya Yesus secara genealogis antropologis dan sosiologis merupakan seorang Yahudi sejati dan Dia berkarya dalam kultur Yahudi dan bingkai Yudaisme.

KONSEKWENSI LOGIS PEMAHAMAN
BAHWA YESUS SANG MESIAS ADALAH ISH YEHUDI

Pertama, Pengikut Mesias (baik itu Mesianik, Kristen, Katholik, Orthodox, Protestan, Advent, Baptis, Pentakosta, Kharismatik, dll) tidak seharusnya melibatkan diri dalam kebencian terhadap berbagai hal yang berbau Yahudi atau Anti Semitisme. Anti Semitisme didefinisikan sbb: “Antisemitism (alternatively spelled anti-semitism or anti-Semitism) is discrimination, hostility or prejudice directed at Jews. While the term’s etymology may imply that antisemitism is directed against all Semitic peoples, it is in practice used exclusively to refer to hostility towards Jews as a religious, racial, or ethnic group”[1].

Artinya, Anti Semitisme merupakan pendiskriminasian, permusuhan atau prasangka yang diarahkan pada orang-orang Yahudi. Meskipun akar istilah ini berdampak bahwa antisemitisme diarahkan pada semua masyarakat Semitik, namun secara praktis digunakan secara ekslusif untuk menunjukkan suatu kebencian terhadap orang-orang Yahudi sebagai sebuah agama, ras atau kelompok etnik.

Ada dua bentuk Anti Semitisme, yaitu Anti Semitisme Keagamaan dan Anti Semitisme Ras[2]. Berbicara mengenai Anti Semitisme Keagamaan, Kekristenan maupun Islam – sekalipun agama yang berakar Semit – menunjukkan sikap-sikap Anti Semit. Bentuk Anti Semitisme dalam Kekristenan, telah berakar sejak tahun 313 Ms ketika Pengikut Mesias non Yahudi yang disebut Christianoi semakin memiliki pengaruh di luar Yerusalem (kelompok Pengikut Mesias di Yerusalem disebut Netsarim atau Nazarene). Status mereka yang semula dijuluki Religio Illicita (agama yang tidak sah) menjadi Religio Licitta (agama sah), setelah Kontantin menjadi kaisar. Dan pada tahun 313 Kaisar Konstantin menetapkan Kekristenan menjadi agama negara Romawi. Dan semenjak itulah hal-hal yang berkaitan dengan Keyahudian berusaha dipangkas al., Shabat, Sunat, Sheva Moedim, Torah, dll. Sejarawan David Rausch menjelaskan: “The Gentile Church claimed to be the true Israel and tried to disassociate itself from the Jewish people early in its history”[3] (Gereja non Yahudi mengklaim menjadi Israel yang benar dan mencoba untuk memutus dirinya dari masyarakat Yahudi dalam sejarahnya)

Sikap-sikap Anti Semitisme oleh “Kekristenan” dan “Gereja”, masih terus terbawa hingga kini. Siap-sikap tersebut terpantul dari pemahaman terhadap Torah yang dimaknai sebagai “Hukum” yang bersifat legalistik.

82

DR. David Stern, seorang Mesianik Yahudi yang telah menaruh kepercayaan pada Yahshua sebagai Mesias, mengakui kesenjangan pemahaman antara Kekristenan dan Yudaisme, ketika membicarakan mengenai Torah. Menurut beliau, jika memperbandingkan buku-buku teologia baik Kristen maupun Yudaisme, akan diperoleh fakta bahwa kedua belah akan bersebrangan pemahaman mengenai topik Torah. Dalam penelusuran berbagai buku teologi Kristen mengenai Torah, al., Augustus Strong’s Systematic Theology, hanya membahas mengenai topik Torah, sebanyak 28 halaman dari 1056 halaman (kurang dari 3%). Sementara L. Berkhof dalam bukunya Systematic Theology, hanya mengulas sebanyak 3 halaman dari 745 halaman (kurang dari1/2%). Berbeda dengan buku-buku teologi dikalangan Yudaisme al., Isidor Epstein’s yaitu the Faith of Judaism, mengulas mengenai Torah sebanyak 57 halaman dari 386 halaman (15%) dan Solomon Schetcher dalam Aspects of Rabbinic Theology mengulas sebanyak 69 halaman dari 343 halaman (20%). Stern berkesimpulan, ”In short, Torah is the great unexplored territory, the terra incognita of Christian Theology”[4] (singkatnya, Torah merupakan wilayah yang belum sama sekali digali, suatu wilayah tidak dikenal dalam Teologi Kristen).

Pemahaman yang keliru terhadap Torah masih mengakar dalam bentuk Teologi Dispensasional dan Teologi Covenant. Dispensasionalisme merupakan pokok Teologi yang mendasarkan pada sejumlah penafsiran teks Kitab Perjanjian Baru dengan pemahaman bahwa YHWH memiliki 2 program yaang berbeda, yaitu untuk Israel dan untuk Gereja. Apa yang menjadi janji milik Israel, tidak dapat dilakukan oleh Gereja. Jika Israel memelihara Sabat (Kel 20:8-11), maka Gereja memelihara Hari Tuhan (1 Kor 16:2). Jika Israel adalah istri dari YHWH (Hos 3:1) maka Gereja adalah Tubuh Mesias (Kol 1:27)[5]. Covenant merupakan pokok Teologia yang berkeyakinan bahwa YHWH membuat 2 perjanjian, yaitu Perjanjian Perbuatan yang dibangun sejak Adam sampai zaman Israel. Perjanjian ini gagal dilakukan oleh Adam. Lalu YHWH memberikan Perjanjian kedua yaitu Perjanjian Anugrah, melalui Yesus, yang dengan sempurna melaksanakan perjanjian tersebut.

Membenci berbagai hal yang berbau Yahudi, berarti membenci Mesias, karena Mesias kita adalah orang Yahudi. Hans Ucko menggambarkan sikap-sikap Kekristenan terhadap kenyataan bahwa Mesias adalah Yahudi sbb: “Gereja Kristen, teologi Kristen dan Kekristenan secara keseluruhan, tidak terpisahkan dengan umat Yahudi atau Yudaisme. Orang Yahudi dan Kristen memiliki Kitab Suci yang sama. Iman Kristen lahir dalam lingkungan Yahudi. Gereja masih saja ragu apakah kenyataan tersebut dinilai sebagai berkat atau kutuk. Sejumlah kecil orang Kristen melihat hubungan diatas sebagai suatu masalah dan berupaya memecahkannya dengan membatasi kitab Perjanjian Lama dan agama umat Israel di satu sisi dan Yudaisme di sisi lainnya. Dengan cara ini, seseorang sebenarnya ‘membebaskan’ orang Israel dari keyahudiannya. Pendekatan tersebut mencerminkan sebentuk rasa sulit (bagi orang Kristen atas hubungannya yang terlalu dekat dengan umat Yahudi dan dengan Yudaisme yang hidup saat ini. Seseorang memang tidak mudah mengakui akibat dari memilih ‘Tuhan Yahudi’ itu”[6].

Memutuskan hubungan sejarah bahwa Yesus adalah Bangsa Yahudi, bahwasnya Kekristenan berakar dari Yudaisme, menimbulkan konsekwensi teologis yang mendalam, berupa kehilangan orientasi dan kesatuan iman dan tata ibadat. Nelly Van Doorn-Harder, MA., menjelaskan kenyataan di atas sbb: “…proses melupakan warisan keyahudian ini berawal dari pengajaran mengenai amanat Kristen diluar tanah asalnya sendiri, tanah Palestina, yakni ketika pesan Kristen ini dikontekstualisasikan dengan cara menyerap budaya-budaya dan ide-ide lokal seperti ide-ide filsafat Yunani…Dalam kenyataan, yang terjadi adalah para reformator bahkan membawa gereja keluar jauh dari warisan aslinya karena mereka dipengaruhi oleh suatu budaya yang berorientasikan ilmu pengetahuan sebagai hasil dari Renaisance. Sehingga keaslian sikap Kristen Yahudi yang senantiasa berdialog secara konstan dengan (Tuhan) yang penuh simbol dan misteri, sama sekali hilang dari kehidupan liturgi Protestan dan diganti oleh penekanan ala Protestan yakni doktrin…anti Yahudi telah memberi andil terhadap paham (ide) bahwa Kekristenan adalah sebuah agama yang betul-betul asli dan tidak menggunakan unsur Yudaisme apapun. Melupakan akar-akar keyahudian, memberikan konsekwensi-konsekwensi serius terhadap kehidupan liturgi Kristen. Bila orang-orang Kristen tidak lagi memahami arti sepenuhnya latar belakang keyahudian dalam kehidupan liturgi mereka, kontroversi-kontroversi seperti yang ada dalam interpretasi mengenai perjamuan kudus, mulai nampak diantara orang-orang Kristen. Akibat dari kontroversi-kontroversi ini adalah munculnya perpecahan-perpecahan dan aliran-aliran dalam gereja”[7].

84

Mengenai Anti Semitisme dikalangan Islam, dapat terlihat dengan beredarnya berbagai buku al., Talmud: Kitab Hitam Yahudi Yang Menggemparkan[8], Menyingkap Tabir Orientalisme[9], Kenapa Kita Tidak Berdamai Saja Dengan Yahudi?[10], Sejarah Islam Dicemari Zionis Dan Orientalis[11], Yahudi Menggenggam Dunia[12], Rahasia Gerakan Freemasonry Dan Rotary Club[13]. Berbagai buku di atas mengekspresikan suatu kebencian terhadap Yahudi yang dipicu oleh berbagai ketegangan di wilayah Palestina sejak tahun 1948. Para penulis tersebut tidak hanya merujuk pada tahun 1948 sebagai pemicu kebencian terhadap Yahudi, namun menarik lebih awal sampai pada tahun awal perkembangan Islam, di mana komunitas Yahudi selalu membuat pengkhianatan terhadap Islam. Inti buku-buku tersebut menegaskan bahwa Yahudi bertanggung jawab terhadap berbagai kebijakan politik dan ekonomi serta kebudayaan yang merusak dan menyengsarakan dunia ketiga khususnya dunia Islam. Berbagai kebijakkan tersebut menyelusup masuk secara rahasia dan konspiratif dengan berbagai organisasi-organisasi rahasiannya seperti Freemasonry dan Iluminasi dll.

Namun semangat berbagai tulisan di atas, tidak diamini oleh semua golongan Islam. Di antaranya Amin Rais menyatakan: “Kita tidak pernah tahu kebenaran teori konspirasi itu. Bukti-bukti ke arah sana tidak pernah ada yang meyakinkan, kecuali hanya dugaan-dugaan, perasaa-perasaan. Pertanyaannya, sampai kapan kita tersandera dalam dugaan-dugaan seperti itu? Bukankah hidup ini harus berjalan dan tidak perlu seluruh waktu kita dihabiskan untuk menjawab sesuatu yang tidak jelas?”[14]

Kedua, Pengikut Mesias (baik itu Mesianik, Kristen, Katholik, Orthodox, Protestan, Advent, Baptis, Pentakosta, Kharismatik, dll) tidak perlu melibatkan diri dalam sikap penuh prasangka dan kebencian terhadap Yahudi. Akar-akar kebencian tersebut telah terlacak dalam sejarah dan dimulai oleh prasangka-prasangka teologis yang tidak berdasar sama sekali.

Meskipun kita tidak melibatkan dalam sikap-sikap yang penuh kebencian terhadap Yahudi, namun bukan berarti kita menyetujui berbagai aktifitas atau tindakan Yahudi sebagai negara yang dapat saja terjatuh dalam berbagai kebijakkan yang keliru dalam panggung politik dunia, khususnya dalam hal menangani konflik dengan Palestina. Hans Ucko mengingatkan sbb: “Disaat tentara Israel membom rumah-rumah orang Palestina dan menutup kegiatan di sekolah-sekolah anak Palestina itu, ada saja orang Kristen (yang terlibat dalam dialog Yahudi-Kristen) mengatakan tanpa pertimbangan apapun bahwa negara Israel adalah tanda kemurahan Elohim kepada umatNya. Dan tidak ada sedikitpun disinggung soal hak asasi manusia. Namun, sebagaimana kita ketahui, etika dan janji Elohim mesti selalu dijalankan beriringan. Bisa saja banyak orang Kristen yang ragu untuk mengkritik negara Israel, karena sikap itu seolah menghidupkan kembali sejarah yang buruk yang ditempuh antara orang Kristen dan Yahudi dimasa lalu. Ketakutan itupun bisa muncul karena keengganan mereka dicap sebagai anti-semitisme.Namun, apakah memang mengkritik kebijakan negara Israel akan selalu berarti bersikap anti semitisme? Kami yakin bahwa kritik terhadap kebijakan-kebijakan pemerintahan Israel tidak dengan sendirinya menjadi sikap anti yahudi. Demi mencari keadilan, kritik yang berkelanjutan perlu dilancarkan terhadap negara-negara dan gerakan-gerakan politik, yang tentu saja tidak harus berarti mencemarkan penduduknya dan lebih lagi persekutuan iman yang ada di negeri itu. Pernyataan-pernyataan yaang menyangkut tindakan negara Israel bukanlah pernyataan yang diarahkan kepada umat Yahudi atau Yudaisme, karena pernayataan itu menjadi bagian resmi dari perdebatan dalam masyarakat dunia. Sikap-sikap kritis yang sama pun akan muncul dari dalam atau dari luar, terhadap negara-negara dan gerakan-gerakan politik yang mengklaim nilai-nili kekristenan sebagai dasarnya”[15]

Dengan penjelasan di atas, kita benar-benar berusaha obyektif dan mengambil jarak terhadap persoalan yang kita hadapi, yaitu memandang Israel sebagai sebuah wilayah geopolitik dan memandang Israel sebagai sumber agama-agama Semitik, sehingga kita tidak terjebak pada fanatisme buta sekaligus menjaga dari sikap Anti Semitik.

Ketiga, Pengikut Mesias (baik itu Mesianik, Kristen, Katholik, Orthodox, Protestan, Advent, Baptis, Pentakosta, Kharismatik, dll) tidak perlu malu dan mengingkari ekspresi Keyahudian dalam ungkapan iman dan ekspresi ibadah. penggunaan Tallit, Tsit-tsit, Kippah, Shofar, Megillot (gulungan kitab), Ta’amaei ha Miqra (melantunkan Torah), penggunaan bahasa Ibrani dalam pembacaan Kitab Suci serta midrashim (pengajaran), sekalipun itu merupakan produk kebudayaan Yahudi, namun semua mengekspresikan suatu sikap penghormatan terhadap Firman YHWH. Pengikut Mesias tidak perlu membuang ekspresi ibadah-ibadah tersebut, karena dengan menyertakan ornamen-ornamen ibadah tersebut, justru memperkaya jati diri keagamaan yang berakar pada nilai-nilai Hebraik Yudaik.

14

Keempat, Pengikut Mesias (baik itu Mesianik, Kristen, Katholik, Orthodox, Protestan, Advent, Baptis, Pentakosta, Kharismatik, dll) harus memahami cara berpikir Yahudi untuk memahami sejumlah idiom dan kebudayaan Yahudi dalam teks Kitab Suci. Apa yang dimaksudkan dengan “cara berpikir Yahudi/Ibrani?” Tim Hegg menjelaskan sbb: “To think Hebraically means to think like a Hebrew did in ancients times. Why would this be important? Because the Scriptures, for the most part, were written by Hebrews (Jews). In fact, only Luke of all the writers of Scriptures was not a Jew by birth (at least by modern scholarly opinion). Thus, if we’re going to understand the manner of speech, the way words are used, and the way important issues of life are described by someone in the Hebrew culture, we must understand, in general terms, how the Hebrew people thought-how they looked at life-their world view”[16] Artinya, “Berpikir secara Ibrani berarti berpikir sebagaimana orang Ibrani berpikir pada zaman lampau. Mengapa hal ini demikian penting? Karena sebagain besar isi Kitab Suci, dituliskan oleh orang-orang Ibrani. Sebenarnya, hanya Lukas dari keseluruhan penulis Kitab Suci yang bukan seorang Yahudi berdasarkan kelahirannya (setidaknya menurut pendapat sarjana modern). Agar kita dapat memahami yaitu cara berbicara, mengenai kata-kata yang dipergunakan serta pentingnya persoalan-persoalan kehidupan yang digambarkan oleh seseorang dalam kebudayaan Ibrani, maka kita harus memahami dengan istilah umum, mengenai bagaimana orang Ibrani berpikir, bagaimana mereka melihat kehidupan – pandangan dunia yang mereka miliki”.

Jika kita meneliti setiap peristiwa dan ungkapan, pernyataan Yahshua dan para rasul-Nya dalam Kitab Perjanjian Baru sarat dengan berbagai latar belakang dan idiom Ibrani. Contoh: “menggenapkan dan membatalkan Torah” (Mat 5:17), “mata baik mata buruk” (Mat 6:22), “mengambil roti dan mengucap syukur” (Mrk 14:22), “Yesus mengambil roti dan memberikan kepada para murid-murid-Nya” (Yoh 21:13), “memecah-memecah roti di rumah masing-masing” (Kis 2:46), “rumah ibadat” (Mrk 6:2), “melakukan kewajiban agamamu” (Mat 6:1) “Terpujilah Engkau Yahweh (Why 19:5)”, dll. Pernyataan-pernyataan di atas tidak akan dipahami oleh pembaca modern yang tidak berlatar belakang Ibrani, sehingga menimbulkan persepsi yang salah yang berkembang dalam berbagai rangkaian doktrin yang berbeda-beda dalam “Kekristenan”.

88

Mari kita mengkaji beberapa di antaranya. Doktrin mengenai Perjamuan Kudus, merupakan misinterpretasi terhadap suatu ritual yang dilakukan Yesus dan para murid-murid-Nya menjelang penangkapan dan penyaliban-Nya. Jika kita meneliti latar belakang Yudaisme pada Abad Pertama Masehi, maka apa yang dilakukan Yesus bukanlah suatu ritual yang terlepas dari konteksnya. Apa yang dilakukan Yahshua merupakan suatu ritual Seder Pesakh, di mana setiap jatuh Tgl 14 Nisan saat orang-orang Yahudi merayakan Pesakh, maka ditiap-tiap rumah keluarga Yahudi, dilangsungkan Seder Pesakh yang mengikuti liturgi tertentu. Dalam Seder Pesakh ada ritual memakan “Matsah” atau Roti Tidak Beragi serta meminum anggur sebanyak lima kali. Dalam Seder Pesakh, ada tradisi mencari Afikomen yaitu belahan Matsah yang dibungkus dalam kain putih dan disembunyikan dan pada ujung ritual akan dicari dan ditemukan oleh anak-anak. Apa yang dilakukan Yahshua beberapa jam sebelum penangkapan-Nya adalah pelaksanaan Seder Pesakh. Namun Yesus memberikan makna baru dan menghubungkan isi dari Seder Pesakh itu kepada diri-Nya. Roti dan anggur yang diminum, menunjuk pada tubuh dan darah-Nya yang akan dikorbankan bagi keselamatan banyak orang[17].

Berbeda dengan arti memecah roti dalam Seder Pesakh, maka pengertian “memecah roti” dalam Markus 14:22 dan Kisah Rasul 2:46, hanyalah ucapan birkat saat hendak makan harian dengan diiringi ungkapan, Baruk Attah Yahweh Eloheinu Hu Melek ha O’lam ha motsi lekhem min ha arets (Diberkatilah Engkau YHWH Tuhan Raja Semesta Alam yang memberikan roti dari bumi). Namun ayat-ayat ini dipahami oleh mayoritas Kekristenan sebagai perjamuan kudus harian.

Studi yang lebih mendalam mengenai sujumlah pernyataan yang mengandung idiom Hebraik, dapat mengkaji karya-karya berikut: DR. David Bivin & Roy Blizard, Understanding the Dificults Words of Jesus”[18] dan Robert H. Stein, Difficult Pasages in the Gospels[19]. Selain kajian di atas, kita dapat memperdalam berbagai penjelasan dan idiom-idiom Hebraik, dalam sejumlah terjemahan Kitab Suci yang mengangkat tema Hebraik dengan disertai komentar-komentar ilmiah al., DR. James Trimm, The Hebraic Root Scriptures[20], The Scriptures[21], Orthodox Jewish Brit Khadasha[22], Rabbi Yoseph Moshe Koniuchowsky, Restoration Scriptures[23],

Kelima, Pengikut Mesias (baik itu Mesianik, Kristen, Katholik, Orthodox, Protestan, Advent, Baptis, Pentakosta, Kharismatik, dll) harus mendefinisikan ulang sosok pencitraan Yesus dalam ekspresi seni, khususnya seni rupa. Berbagai ekspresi seni rupa atau seni lukis Kekristenan, cenderung menampilkan sosok Yesus yang tidak bercirikan Yahudi sama sekali melainkan lebih mencirikan seorang Yunani dan Eropa. Berkaitan dengan kenyataan di atas, Hans Ucko memberikan ulasan sbb: “Adalah menarik mengamati bagaimana orang-orang Kristen di banyak tempat berupaya menjadikan Yesus sebagai salah seorang dari kelompok mereka, seolah Yesus hidup dalam kebudayaan dan keprihatinan yang sama dengan mereka. Yesus menjadi Yesus orang Afrika, Yesus orang palestina, Yesus orang Amerika Latin. Hal seperti ini memang perlu, sebab upaya tadi memperkaya kekristenan. Namun akibatnya terkadang orang lupa siapa Yesus yang sesungguhnya. Baru akhir-akhir inilah ada upaya mengembalikan Yesus ke dalam keyahudian-Nya…Seni rupa Kristen memang bercermin pada gagasan Kristen. Akibatnya, ada keraguan untuk melukiskan-Nya sebagai seorang Yahudi. Hanya Marc Chagall, pelukis Yahudi ini, yang senantiasa melukis wajah Yesus orang Nazaret yang disalibkan itu dengan muka seorang Yahudi yang letih, disertai dengan syal doa-Nya yang berwarna hitam-putih yang menutupi pinggul-Nya sampai ke bawah”[24]

Untuk memvisualisasikan perbedaan penggambaran mengenai sosok Yesus, mari kita melihat gambar berikut ini:

Gambaran di atas memberikan suatu visualisasi mengenai Yesus yang lebih bercorak Yunani daripada seorang Yahudi. Bandingkan dengan gambar di bawah ini yang menampilkan sosok Yesus yang lebih mendekati keyahudian-Nya.

Bukanlah suatu kesalahan ataupun kejahatan melukiskan Yesus dengan corak yang disesuaikan dengan kultur bangsa-bangsa yang menerima Dia sebagai Mesias. Persoalannya adalah bahwa secara kultural Yahshua adalah seorang Yahudi, maka diperlukan suatu “kejujuran estetis” dalam menuangkan sosok Yesus yang historis sebagai seorang Yahudi, agar tidak menimbulkan “distorsi historis “dan “distorsi genealogis” terhadap pribadi Yesus Sang Mesias.

Keenam, Pengikut Mesias (baik itu Mesianik, Kristen, Katholik, Orthodox, Protestan, Advent, Baptis, Pentakosta, Kharismatik, dll) perlu memberikan perhatian pada pengkajian literatur keagamaan Yudaisme pra Mesias khususnya Talmud, untuk mendapatkan gambaran mengenai latar belakang ucapan dan ajaran Yesus. Talmud didefinisikan sebagai: The Talmud is a record of rabbinic discussions pertaining to Jewish law, ethics, customs and history. The Talmud has two components: the Mishnah (c. 200 CE), the first written compendium of Judaism’s Oral Law; and the Gemara (c. 500 CE), a discussion of the Mishnah and related Tannaitic writings that often ventures onto other subjects and expounds broadly on the Tanakh. The terms Talmud and Gemara are often used interchangeably. The Gemara is the basis for all codes of rabbinic law and is much quoted in other rabbinic literature. The whole Talmud is also traditionally referred to as Shas (a Hebrew abbreviation of shisha sedarim, the “six orders” of the Mishnah)[25]. Artinya, “Talmud merupakan kumpulan diskusi-diskusi rabinik yang menyinggung mengenai hukum Yahudi, etika, kebiasaan dan sejarah. Talmud terdiri dari dua susunan: Misnah (200 Ms) kumpulan tulisan pertama dari Hukum Lisan Yahudi dan Gemara (500 Ms) sebuah diskusi mengenai Mishnah dan berhubungan dengan tulisan-tulisan Tannaitik yang terkadang melibatkan suatu spekulasi mengenai topik lain dan memperluas kajian dalam TaNaKh. Istilah Talmud dan Gemara dapat dipakai secara bergantian. Gemara adalah dasar bagi keseluruhan pemecahan masalah hukum Yahudi dan banyak dikutip dalam literatur rabinik. Keseluruhan Talmud terkadang disebut dengan Shas (singkatan Ibrani dari shisha sedarim “enam urutan” dari Mishnah).

Talmud memiliki dua versi. Versi Babilonia dan versi Yerusalem. Talmud Babilonia lebih lengkap dan tebal. Misnah terdiri atas enam pokok bahasan (sedarim) yaitu “Zeraim” (mengenai benih tanaman), “Moed” (mengenai perayaan), “Nashim” (mengenai wanita), “Nezikin” (mengenai persoalan yang dilarang), “Kodashim” (mengenai perkara yang kudus), “Toharot” (mengenai ritual penyucian diri). Disetiap topik bahasan (sedarim) terdiri dari banyak sub bahasan (masekhot). Keseluruhannya ada 63 masekhot dalam Misnah[26]. Susunan Talmud sebagaimana dijelaskan di atas sbb:[27]

1. SEDER ZERA‘IM

Tractate Berakoth

2. SEDER MO‘ED

Tractate Shabbath

3. SEDER NASHIM

Tractate Yebamoth
Tractate Kethuboth
Tractate Nedarim
Tractate Nazir
Tractate Sotah
Tractate Gittin

4. SEDER NEZIKIN

Tractate Baba Kamma
Tractate Baba Mezi‘a
Tractate Baba Bathra
Tractate Sanhedrin
Tractate ‘Abodah Zarah
Tractate Horayoth

5. SEDER KODASHIM

6. SEDER TOHOROTH

Tractate Niddah
Tractate Tohoroth

Eksistensi Talmud, mendapat tentangan, baik dari kalangan Yahudi sendiri, maupun Islam serta Kekristenan. Kaum Saduki menolak keberadaan Talmud, demikian pula dengan kaum Karaites serta Haskalah. Mereka beranggapan bahwa Talmud mengekang atau mencegah seseorang memperoleh kesadaran pencerahan[28]. Sementara kalangan Islam menerbitkan buku berjudul, “Talmud: Kitab Hitam Yahudi Yang Menggemparkan”[29]. Kekristenan Romawi dan khususnya era Reformasi Luther, memberikan penilaian negatif terhadp eksistensi Talmud dan menyebutnya sebagai “penyembahan berhala”, “kutukan”, “ajaran yang menghujat”[30]

Sejauh mana Talmud memiliki signifikasi bagi Pengikut Mesias (baik itu Mesianik, Kristen, Katholik, Orthodox, Protestan, Advent, Baptis, Pentakosta, Kharismatik, dll)? Pertama, Talmud memberikan informasi mengenai latar belakang sejarah keyahudian dan Yudaisme pra Mesias. Shmuel Safrai menjelaskan mengenai peranan Talmud: “There are no complete historical books in the talmudic tradition, but there is a wealth of varied information from all facets of public and private social life and spiritual life in the Temple, the synagogue and the house of study. Likewise we can glean facts from talmudic literature regarding trade and economics, agriculture, craftmanship, the life of the sages and of the common man, urban-rural relations and relations between Eretz Israel and the Diaspora. The hakahot, aggadot, dialogues and debates reflect both the home and the marketplace, the wealthy and the poor, weekdays, sabbaths and festivals-in fact every aspects of human life in all its variety and formas of expression”[31] Artinya, “Tidak ada buku sejarah yang lengkap dalam tradisi Talmudik namun di dalamnya ada berbagai informasi yang melimpah dari berbagai bentuk kehidupan sosial dan spiritual masyarakat di Bait Suci, Sinagog-sinagog dan rumah belajar. Agaknya kita dapat mengumpulkan fakta-fakta dari literatur Talmudik mengenai jual beli dan perekonomian, ketrampilan, kehidupan para kaum bijaksana, dan orang biasa, hubungan kota dan desa serta hubungan Tanah Israel dan Diaspora”. Dengan membaca Talmud, kita dapat memetakan dan merekonstruksi latar belakang sejarah Yudaisme pra Mesias dan bagaimana para rabbi mengapresiasi TaNaKh dalam zamannya.

Kedua, Talmud memberikan keterangan mengenai aplikasi suatu ayat dalam TaNaKh yang tidak dimengerti oleh pembaca TaNaKh Abad XXI. Contoh, Keluaran 20:10 memerintahkan, “Lo taasheh kal melaka, Atta ubeneka ubiteka avdeka waamateka ubehemteka wegerka asher bishareka”. Orang beriman tidak diperbolehkan bekerja di hari Shabat. Kata “Bekerja” dalam ayat ini diterjemahkan dari kata “Melakha”. Bukan sekedar bekerja biasa namun, “suatu pekerjaan yang bersifat menciptakan atau menguasai terhadap sesuatu”[32]. Kata ini berhubungan dengan kata “Melekh” (Raja). Yudaisme mengatur mengenai “Melakha” yang tidak boleh dikerjakan, dalam MISNAH SHABAT 7:2, sbb:[33]

* Sowing (menabur benih)
* Plowing (membajak)
* Reaping (memungut tuaian)
* Binding sheaves (mengikat berkas)
* Threshing (mengirik)
* Winnowing (menampi)
* Selecting (menyeleksi)
* Grinding (menggiling)
* Sifting (mengayak, menampi)
* Kneading (membuat adonan)
* Baking (membakar)
* Shearing wool (mencukur wool)
* Washing wool (mencuci wool)
* Beating wool (memukul /menumbuk wool)
* Dyeing wool (mencelup wool)
* Spinning (memintal)
* Weaving (menenun, menganyam)
* Making two loops (membuat dua potongan)
* Weaving two threads (menganyam dua benang)
* Separating two threads (memisahkan dua benang)
* Tying (mengikat)
* Untying (membuka)
* Sewing two stitches (menjahit dua jahitan)
* Tearing (menyobek)
* Trapping (menjerat binatang)
* Slaughtering (menyembelih)
* Flaying (menguliti)
* Salting meat (mengasini makanan)
* Curing hide (merawat kulit)
* Scraping hide (memarut kulit)
* Cutting hide up (memotong kulit)
* Writing two letters (menulis dua surat)
* Erasing two letters (menghapus dua surat)
* Building (membangun)
* Tearing a building down (membongkar bangunan)
* Extinguishing a fire (memadamkan api)
* Kindling a fire (mengumpulkan kayu untuk perapian)
* Hitting with a hammer (memukul dengan palu)
* Taking an object from the private domain to the public, or transporting an object in the public domain. (menggunakan benda /alat transportasi yang digunakan untuk kepentingan umum)

22

Kategorisasi diatas, menolong kita untuk mengenali berbagai aktivitas yang dikategorikan dengan “melakha”. Halakha rabinik diatas merupakan penafsiran para rabbi Yahudi untuk menolong umat dalam mengklasifikasikan apa yang tidak boleh dikerjakan. Walapun demikian, kategorisasi di atas dapat mengesankan legalistik dan menjadi kuk, jika tidak disertai pemahaman yang benar mengenai hakikat Torah dan hakikat Kasih Karunia YHWH.

96

Torah sendiri tidak memberikan kategorisasi yang spesifik. Agar tidak terjebak praktek yang bersifat legalistik (ketaatan pada hukum yang berlebihan, sehingga mengabaikan essensi hukum itu sendiri), kita harus memperhatikan apa yang diajarkan Mesias, “Sabat untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat” (Mrk 2:27). Apa artinya? Sabat hendaklah bukan menjadi beban atau kuk yang memenjarakaan kehidupan orang beriman karena Sabat diperuntukkan bagi manusia untuk beristirahat dan beribadah secara personal dan komunal kepada Yahweh. Bahaya melakukan berbagai kategorisasi secara kaku dan mutlak tanpa memperhatikan konteks waktu dan tempat, dapat menimbulkan bahaya legalistik.

Ketiga, memberikan informasi mengenai pararelisasi antara Yudaisme dengan ajaran Yahshua dalam Kitab Perjanjian Baru, dlam batas-batas tertentu. DR. David Stern menerbitkan Jewish New Testament Commentary yang berusaha mensinergikan sumber-sumber literatur Yahudi kuno dan kontemporer, untuk mendapatkan pemahaman yang utuh mengenai latar belakang dan kesamaan ucapan Yesus dengan beberapa ajaran para rabbi. Dalam bukunya, Stern menjelaskan: “My own purpose in these notes that draw on Jewish writings is neither to prove that the New Testament copied rabbinic Judaism nor the opposite, but simply to present a sampling of the many parallels”[34] Artinya, “Tujuan saya dengan menyertakan tulisan-tulisan Yahudi, bukanlah untuk membuktikan bahwa Kitab Perjanjian Baru meniru rabinik Yudaisme bukan pula menentangnya, namun sebenarnya untuk menunjukkan contoh mengenai banyaknya kesamaan-kesamaan”. Beberapa contoh kesamaan tersebut dalapat dilihat dalam beberapa perkataan Yesus. Dalam Matius 6:7 Yesus mengatakan: “Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Tuhan. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan”

Pernyataan ini setara dengan apa yang pernah diucapkan rabi-rabi Yahudi dalam Mishnah Avot 2:1-3 sbb: “Rabbi Shim’on berkata, ‘…Ketika kamu berdoa, janganlah membuat doamu kaku (berulang-ulang, mekanis) namun naikkanlah dengan kerendahan hati dan keindahan di hadapan Yang Maha Ada, diberkatilah Dia”[35]. Demikian pula dengan Berakhot 61a sbb: “Ketika kamu menghampiri Yang Maha Kudus, diberkatilah Dia, biarlah kata-katamu sedikit”[36]

Bahkan ucapan Yesus yang dikenal oleh Kekristenan dengan sebutan Golden Rule atau Hukum Emas ternyata memiliki paralelisasi dengan tulisan-tulisan Apokripha Yahudi seperti Tobit 4:15 sbb: “Apa yang tidak kausukai sendiri, janganlah kauperbuat kepada siapapun. Jangan minum anggur sampai mabuk dan kemabukan jangan menyertai dirimu di jalan”[37]

Talmud melaporkan sebuah peristiwa pertemuan antara seorang kafir Romawi dengan Hillel dan Shamai dalam Mishnah Shabat 31a sbb: “Seorang penyembah berhala mendatangi Shamai dan berkata kepadanya, ‘Buatlah aku menjadi seorang Proselite (orang yang mengikut agama Yudaisme), namun dengan syarat bahwa engkau mengajarkan kepadaku keseluruhan Torah, sementara Aku berdiri pada salah satu kaki! Shammai mengusirnya dengan tongkat pengukur bangunan di tangannya. Ketika penyembah berhala tersebut menemui Hillel, dan mengucapkan perkataan yang sama, maka Hillel menjawabnya, ‘Apa yang kamu benci, janganlah kamu melakukannya pada sesamamu. Inilah keseluruhan Torah. Sisanya hanyalah penjelasan. Pergi dan lakukanlah!”[38]

Perbedaan antara ucapan Yesus dengan Hillel, bahwasanya Yesus mengucapkan dalam bentuk positip, “apa yang orang lain ingin lakukan kepadamu, lakukanlah demikian”, sementara Hillel mengucapkan dalam bentuk negatif, “Apa yang kamu tidak ingin orang lain lakukan terhadap dirimu, maka kamupun jangan melakukan demikian”.

98

Keempat, memberikan informasi dn keterangan yang menguatkan historitas Yesus Sang Mesias. Meskipun Talmud memberikan kesaksian negatif terhadap Yahshua Sang Mesias, namun kita dapat memperoleh informasi mengenai sikap-sikap orang Yahudi pada saat itu mengenai tokoh Yesus sebagai tokoh historis. Dalam Mishnah Sotah 47a dikatakan: “Para rabi telah mengajarkan: Hendaklah tangan kiri kita menerima dan tangan kanan kita mengembalikan. Jangan seperti Elisha yang membiarkan Gehazi, menerima dengan kedua tangannya(dan jangan seperti Yesus ben Peraiah yang menerima murid-muridnya dengan kedua tangannya”[39].

Dalam catatan kaki editor diberikan komentar sbb: “Dalam edisi lampau dibaca Yesus dari nazarene. R.T. Herford melmandang bahwa nama Gehazi merupakan petunjuk tersembunyi mengenai Paul murid Yesus, Band dalam tulisannya yang berjudul, : his Christianity in Talmud and Midrash, pp. 97ff”[40].
Dalam Talmud, Yesus disebut dengan nama ejekan “Yeshu ben Peraiah”. Dan dalam beberapa beberapa tempat, Yesus disebut dengan “Yeshu ha Notsri”, sebagai bentuk ejekan dan tuduhan bahwa dia tidak memperkenan hati Tuhan, sehingga namanya disingkat dari Yahshua menjadi Yeshu[41].

Kelima, memberikan suatu pemecahan permasalahan mengenai suatu ayat yang samar dalam TaNaKh dan dibahas dari berbagai sudut pandang beberapa rabbi. Contoh mengenai kalimat “Kemudian kamu harus menghitung, mulai dari hari sesudah sabat itu, yaitu waktu kamu membawa berkas persembahan unjukan (omer) , harus ada genap tujuh minggu;…” (Im 23:15) mengenai penetapan jatuhnya Hari Raya Shavuot atau pentakosta. Frasa “mimakhorat ha shabat (mulai dari hari sesudah shabat) menimbulkan ketidak jelasan. Sebab ada dua Shabat. Yang satu Sabat Pekanan yang jatuh tiap hari Sabtu dan yang kedua Shabat Moedim atau Shabat hari raya yang dapat jatuh hari apa saja, yang penting saat hari raya dimulai, itulah Shabat hari raya.

Terhadap ayat tersebut, Yudaisme terbagi dua. Kaum Farisi menganggap “hari sesudah Shabat” sebagai satu hari setelah Pesakh (14 Nisan) yang jatuh pada tanggal 15 Nisan. Sementara kaum Saduki, memaknainya sebagai Hari Pertama (Minggu). Akibat perbedaan penafsiran ini, maka akan membuat perbedaan mengenai jatuhnya Hari Raya Shavuot atau Pentakosta. Setiap tahun mesti terjadi selisih kurang lebih 7 hari antara mazhab Farisi dan mazhab Saduki dalam merayakan Hari Raya Shavuot. Talmud membicarakan persoalan itu secara panjang lebar dalam Seder Mo’ed Traktat Shabat.

KESIMPULAN

Dari pengkajian teks dan konteks Zakaria 8:23 dengan dilengkapi pengkajian teks-teks Kitab Perjanjian Baru beserta bukti-bukti sejarah, semakin menguatkan bahwa Yesus Sang Juruslamat secara historis anthropologis adalah “Ish ha Yahudi” – seorang Yahudi. Namun dikarenakan Gereja telah tercerabut dari Akar Ibrani maka sosok historis Yesus mengalami berbagai distorsi, khususnya dalam dunia seni rupa Kristen. Pembuktian bahwa Yesus adalah seorang Yahudi, memberikan implikasi-implikasi teologis yang serius terhadap Kekristenan yang berakar dari Barat yang telah mendistorsi Semitisme Yesus menjadi sosok manusia yang bersifat Yunani dan Eropa. Salah satu dari implikasi serius tersebut adalah dekonstruksi terhadap sikap Anti-Semitisme atau Anti Yahudi dan mulai melihat dengan jujur teks-teks TaNaKh dan Kitab Perjanjian Baru dengan melibatkan literatur-literatur Yahudi seperti Talmud, Midrash, dll, untuk mendapatkan gambaran yang utuh mengenai pengajaran Yesus yang berlatar belakang Semitik-Hebraik. Marilah kita memegang dengan kuat Tsit-tsit Orang Yahudi itu, karena Tuhan beserta dengan-Nya!

[1] http://en.wikipedia.org/wiki/Antisemitism

[2] Ibid.,

[3] Messianic Judaism: Its History, Theology and Polity, Lewiston, New York: Edwin Mellen Press, 1982, p.13

[4] Messianic Jewish Manifesto, Jewish New Testament Publications, 1991, p.126

[5] Band. Paul Enns, The Moody Hand Book of Theology, Literatur SAAT, 2004.

[6] Akar Bersama: Belajar tentang Iman Kristen dari Dialog Kristen-Yahudi, Jakarta: BPK, 1999, hal 5

[7] Akar-akar Keyahudian dalam Liturgi Kristen, dalam : Jurnal Teologi GEMA Duta Wacana, no 53, Yogyakarta: 1998, hal 72-73

[8] Jakarta: SAHARA Publishers, 2004, hal 239-243

[9] DR. Ahmad Abdul Hamid Ghurab, Jakarta: Pustaka Al Kautsar, 1993

[10] Muhsin Anbataani, Jakarta: Gema Insani Press, 1993

[11] DR. Jamal Abdul Hadi Muhamad Mas’oud dan DR. Wafa Muhamad Rif’at Huj’ah, Jakarta: Gema Insani Press, 1993

[12] William G. Carr, Jakarta: Pustaka Al Kautsar, 1993

[13] Muhamad Fahim Amin, Jakarta: Pustaka Al Kautsar, 1992

[14] Tajuk KOMPAS 13 Juni 2002

[15] Op.Cit., Akar Bersama,: Belajar tentang Iman Kristen dari Dialog Kristen-Yahudi, hal 15

[16] Interpreting the Bible: An Introduction to Hermeneutics, TorahResources.com Distance Learning Yeshiva, 2000, p. 20

[17] Band. Buletin Nafiri Yahshua Vol 27/2006 hal 32-39

[18] Destiny Image Publishers, 1994 atau dapat diakses di http://www.JCStudies.com

[19] Baker Book House, 1986

[20] Society for Advancement Nazarene Judaism, 2001

[21] The Institute for Scripture Research, Northriding, Republic of South Africa, 2000

[22] Artist for Israel International, New York, 1996 (www.beittikvahsynagogue.org)

[23] Your Arms to Yisrael Publishing, 2005

[24] .Cit., Akar Bersama, hal 6-7
[25] http://en.wikipedia.org/wiki/Talmud

[26] Tracey R. Rich, Torah, 1995-1999, http://www.jewfaq.org

[27] Rabbi Dr. Isidore Epstein of Jews’ College, London, http://www.come-and-hear.com/talmud
[28] Rachmiel Frydland, When Talmud is Right, http://www.menorah.org/whentlir.html

[29] Jakarta: SAHARA Publishers, 2004, hal 239-243

[30] Anti-Semitism of the Church Father http://www.yashanet.com/library/fathers.htm

[31] Talmudic Literature as an Historical Source for the Second Temple Period, Jerusalem School of Synoptic Studies, MISHKAN ISSUES No 17/18, 1992-1993

[32] Tracey R. Rich, Shabat, 1995-2005, http://www.jewfaq.org

[33] Ibid.,
[34] Jewish New Testament, Clarksville, Maryland: Jewish New Testament Publications, 1992, p.xii

[35] Ibid., p.31

[36] Ibid.,

[37] Deuterokanonika Terjemahan Baru, Lembaga Biblika Indonesia, 1976, Alkitab Elektronik Indonesia Seri 2.0.0

[38] Ibid., p. 33
[39] DR. James D. Price, Yehoshua, Yeshua or Yeshu: Which one is the name of Jesus in Hebrew? http://www.direct-ca-trinity.yehoshua.html

[40] Ibid.,

[41] Ibid.,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: