• Penanggalan Ibrani

    April 2013
    S S R K J S M
    « Jan   Agu »
    1234567
    891011121314
    15161718192021
    22232425262728
    2930  
  • INFORMASI PENTING

  • Pendapat Anda

    josysuitela di HIPNOTIS ALKITABIAH ATAU …
    josysuitela di HIPNOTIS ALKITABIAH ATAU …

Penggusuran Gereja HKBP

HKBP2Hari ini (Jumat, 22 Maret 2013) adalah salah satu ujian emosional terbesar dalam hidup saya, ketika saya meliput penghancuran HKBP Taman Sari, Setu, Bekasi. Saya harus bisa memisahkan jati diri sebagai orang Kristen yang tentu tak rela melihat sesamanya menderita, dan profesi sebagai jurnalis.

Pemerintah kabupaten Bekasi memutuskan untuk menghancurkan gereja ini hari ini (Kamis, 21 Maret 2013) karena tidak memiliki IMB. Pdt. Adven Leonard Nababan, pendeta gereja tersebut mengatakan pada saya bahwa gerejatersebut sedang mengurus IMB dan telah mendapatkan tanda tangan dari masyarakat lokal. Proses untuk mendapatkan IMB terhenti di bulan januari ketika ada penolakan dari orang-orang yang tak berdomisili di sana.

Pagi hari situasi biasa saja di sekeliling gereja. Ada kelompok bernama Forum Umat Islam Taman Sari berdemonstrasi sekitar setengah kilometer dari lokasi. Anggota gereja masih duduk-duduk tenang di halaman gereja. Meski kuatir, beberapa dari mereka mengatakan masih berharap pemda bekasi membatalkan rencana tersebut.

Lalu ekskavator itu datang, si mesin penghancur.

Seorang Ibu bernama Nia Pandiangan yang menggendong anak balitanya menangis meratap. Dia bersimpuh di depan para petugas Satpol PP dan memohon mereka untuk tidak menghancurkan gerejanya. Anak-anak kecil dan ibu-ibu mulai menangis. Dalam putus asa, bapak-bapak mulai menyanyi lagu gereja dalam bahasa Batak yang berjudul “Harap Akan Tuhan.” Sebagian lain berdoa sendiri-sendiri.

Sesaat saya ingin sekali memeluk ibu Nia dan mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja. Sesaat saya ingin bergabung bersama mereka dan melawan pemerintah daerah yang selalu menolak dialog dengan mereka dengan berbagai alasan. Sesaat saya ingin ikut berdoa dan bernyanyi bersama mereka. Sesaat saya ingin menangis dan teriak bersama mereka dalam kesedihan. Sesaat saya ingin membantu pengacara gereja yang terus menunjukkan undang-undang bahwa pembongkaran tersebut ilegal.

Tapi saya wartawan.

Saya di sana untuk meliput. Kalau sekali saja saya terlihat memihak orang gereja, akan sulit untuk saya mewawancarai orang-orang FUIT. Di sinilah netralitas diuji.

Mempertahankan kenetralan posisi mempermudah saya untuk berbicara dengan anggota FUIT dan Satpol PP. Mereka dengan berapi-api memberikan informasi yang saya tanyakan. Dan di akhir wawancara, setelah meminta no telepon mereka, saya mengucapkan terima kasih dan tersenyum pada mereka, senyum yang meski saya upayakan terlihat setulus mungkin sebenarnya tidak lahir dari hati.

Sesungguhnya dalam hati saya ingin mengatakan pada mereka bahwa mereka sudah melakukan kesalahan. Saya ingin mengatakan pada orang-orang FUIT itu bahwa mereka harusnya bekerja untuk menghidup keluarga, dan bukan mendukung penghancuran rumah ibadah di tengah-tengah jam produktif. Saya ingin mengatakan pada Satpol PP bahwa mereka telah bertindak bodoh dengan hanya melaksanakan perintah tanpa menganalisanya dengan hati dan otak.

Tapi sekali lagi, saya wartawan.

Ketika mesin penghancur itu merubuhkan bangunan semi permanen gereja tersebut, meski saya sangat ingin menangis, saya menahannya. Saya merekam video, mengambil foto dan mewawancarai orang dengan memasang pembatas tinggi pada dinding emosi saya. Saya wartawan dan saya harus netral. Saya harus tetap tersenyum pada nara sumber, dan berusaha dengan strategis untuk mendapatkan informasi.
HKBP3
Tak masalah mengambil gambar dua orang anak kecil yang menangis terisak-isak ketika mereka katakan mereka kehilangan sekolah minggu mereka. Meski ibu mereka katakan pada mereka utk tak membenci musuh, saya tak bisa bersimpati terlalu dalam. Tak juga jadi masalah tersenyum pada orang-orang yang mungkin sudah kehilangan hati nurani. Saya kan wartawan. Ini masalah kerja, bukan personal.

Tak masalah ketika saya mendengarkan bagaimana Bapak Panjaitan, seorang anggota gereja bercerita bahwa jemaat sendiri yang mengumpulkan uang dan membangun gereja itu sendiri. Meski cerita mereka seharusnya membuat orang terharu, saya tidak bisa menunjukan simpati berlebihan. Karena saya wartawan.

Saya pun tetap menahan diri untuk tetap tak berpihak ketika Pdt. Adven Nababan mengucapkan terima kasih dengan manis pada polisi dan satpol pp serta kelompok FUIT untuk apa yang mereka lakukan hari ini dan memberkati mereka, lepas dari apa yang sudah mereka lakukan.

Ya Tuhan, sungguh hati ingin menangis, sungguh hati ingin menjerit. Tapi saya wartawan, saya harus netral.

Maka ketika gereja tersebut sudah rata dengan tanah, orang-orang beranjak pergi, saya melepas atribut saya sebagai wartawan, kartu pers, tablet, catatan wawancara saya masukkan. Saya hampiri satu ibu yang terlihat sangat sedih berdiri di bawah pohon. Dia tak menjerit atau melawan seperti banyak ibu lainnya di sana. Air mata jatuh satu satu di pipinya.

Saya pegang tangannya, dan saya katakan “Ibu, saya bukan jemaat sini. Saya hanya wartawan yang meliput. Tapi ibu, percayalah, saya merasakan apa yang ibu rasakan. Saya berharap Tuhan akan mendirikan gereja yang lebih indah dan besar untuk ibu dan jemaat di sini.”

Ibu itu menatap saya dan hanya dua kata keluar “terima kasih.” Dan dia kembali menangis.

Malam ini, saya merasa tak lagi kuat menahan emosi. Ketika saya saksikan video yang saya rekam, ketika melihat foto-foto anak-anak dan ibu-ibu menangis, ketika saya lihat Satpol PP mendorong ibu-ibu yang bersimpuh di depan mereka…. Saya hanya manusia.

Ya saya wartawan, tapi saya punya perasaan. Ketika tugas itu sudah selesai, maafkan saya, saya juga ingin menangis.

Berita penghancuran ini tidak banyak terliput oleh media massa. Ratusan gereja dan rumah ibadah lain dirusak mengatasnamakan agama Islam. Bagaimana bila hal itu dilakukan terhadap mesjid, apakah tidak terliput juga di media massa? Seperti doa Yesus, “Bapa ampunilah mereka, karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.”
(Taken from Camelia Pasandaran’s blog: beritasatu.com)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: