• Penanggalan Ibrani

    Juli 2008
    S S R K J S M
    « Jun   Agu »
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    28293031  
  • INFORMASI PENTING

  • Pendapat Anda

    josysuitela di HIPNOTIS ALKITABIAH ATAU …
    josysuitela di HIPNOTIS ALKITABIAH ATAU …

KRISTOLOGI

I. PENDAHULUAN

Ada dua pertanyaan dasar penting untuk mempelajari Kristologi, yaitu :

1. Matius 22:42

“Apakah pendapatmu tentang Mesias? Anak siapakah Dia?

2. Matius 27: 22

“Apakah yang harus kuperbuat dengan Yesus yang disebut Kristus?

Dua pertanyaa diatas dikaitkan dengan dua topik besar

1. Oknum Mesias – Siapa Ia?

2. Karya Mesias – Apa yang ia telah Ia lakukan

II. OKNUM KRISTUS

Pengenalan akan oknum Mesias berkembang sedemikian rupa, hingga muncul berbagai bidat. Dalam perkembangannya bidat-bidat ini terpecah menjadi bagian-bagian, ada yang kecil dan besar jumlahnya pengikutnya. Beberapa bidat saja akan diuraikan berikut ini karena para prinsipnya hampir semua bidat memiliki semangat yang sama dalam mempertanyakan dan menolak keberadaan Yeshua sebagai Mesias dan Juruselamat dunia.

1. EBIONIT –

Pandangan utama bidat Ebionit adalah mengenai oknum Kristus. Mereka menolak bahwa Kristus mempunyai kodrat yang Illahi, dan mengabaikan konsepsiNya yang supra natural. Di dalam penolakan ke-Tuhanan Kristus, mereka memandang Dia hanya sebagai manusia. Mereka menolak ke-TuhananNya karena percaya bahwa hal itu bertentangan dengan fakta mengenai keesaan Allah. Mereka mengajarkan bahwa bila Yesus adalah Allah, hal ini akan bertentangan dengan monoteisme, yang adalah kepercayaan bahwa hanya ada satu Allah. Ada juga bidat-bidat modern yang menjadi rekan dari bidat ini menolak ke-Tuhanan Kristus.

2. GNOSTIK

Gnostik muncul pada sekitar waktu yang sama dengan Ebionit (135M), namun mereka menempuh yang ekstrim lainnya, dengan menolak kemanusiaan yang penuh dari Kristus, kaum Gnostik juga disebut Docetas yang berarti “yang rupanya” atau “sepertinya”, karena pandangan mereka mengenai oknum Kristus. Secara mendasar ada tiga kelompok Gnostik yang memegang pandangan bidat yang sama mengenai kemanusiaan Kristus.

1. Docetas > kelompok ini menolak realitas tubuh Kristus dengan mengatakan bahwa tubuhNya hanya sebagai penampilan seperti hantu.

2. Gnostik > kelompok ini mengajarkan bahwa Kristus mempunyai tubuh riil tetapi menolak fakta bahwa tubuh itu adalah secara fisik atau materi. Mereka percaya bahwa karena daging bersifat jahat, maka tubuh Kristus tidak mungkin sebagai manusia.

3. Cerintian > Gnostik dengan nama Cerinthius yang mengajarkan bahwa Yesus Kristus adalah berbeda, bahwa Yesus hanya manusia biasa, putera Yusuf dan Maria, dan bahwa Kristus adalah roh dan kuasa Allah yang turun ke atas Yesus pada saat pembaptisanNya di sungai Yordan, mereka mengajarkan bahwa Kristus berpisah dari Yesus pada saat penyalibanNya dan meninggalkan Dia menderita dan mati sendiri.

Bidat-bidat Gnostik ini disinggung dan ditangani di surat Kolose, I Timotius, II Timotius, I Yohanes, Yudas dan Wahyu (baca juga Yohanes 20:31, I Yohanes 5:20, I Yohanes 21, Ibrani 2:14, I Yohanes 4:1-4, I Timotius 3:16, Kolose 1:19, 29).

C. Arian. Arius adalah seorang penatua di Alexandria, Mesir. Ajaran Arius berhubungan lebih tepat dengan doktrin tentang Allah bukan dengan oknum Kristus. Namun ajaran-ajarannya tidak semua dapat dipisahkan satu dengan lainnya. Orang Arian menganjarkan bahwa Kristus tidak hidup sebelum penciptaan, dan bahwa Ia mahluk yang diciptakan dan bahwa oleh Dialah semua yang lain diciptakan. Dalam keadaanNya yang diciptakan, Ia disebut sebagai Logos, Anak, satu-satunya yang dilahirkan dan permulaan dari Ciptaan Allah (Yohanes 1:1-3, 14-18, Wahyu 3:14). Arius mengajarkan bahwa walaupun Anak disebutkan sebagai Allah, Ia bukan Allah dalam pengertian yang penuh dari kata itu, tetapi merupakan yang tertinggi dari semua mahluk ciptaan. Ia adalah Illahi, tetapi bukan Allah, pertengahan yang setengah allah diantara manusia dan Allah. Arianisme disalahkan diantara tahun 321-325 M oleh Alexander, Uskup Alexandria dan Arius diberhentikan dari memegang suatu jabatan di Gereja dan juga dari persekutuan, bidat ini menolak kekekalan dan bersama-sama dari oknum Kristus dengan Bapa dan Roh Kudus, menjadikan Dia sebagai mahluk ciptaan saja.

D. Apollinarian. Apollinarius adalah seorang Uskup yang terkenal di Laodikia. Ia mengajarkan bahwa Kristus mempunyai tubuh yang sebenarnya dan jiwa animal tetapi bukan roh yang rational atau akal budi. Karena kesulitan dalam mengajarkan bahwa Anak yang kekal memberikan roh atau akal budi Yesus Kristus. Jadi tubuh dan jiwa adalah bagian yang manusiawi dan Anak yang kekal adalah Ilahi atau bagian yang roh dari Yesus. Pengajaran ini menolak kesempurnaan kodrat manusia dari Kristus, dengan mengajarkan bahwa Ia hanya mempunyai dua bagian dan bukan kemanusiaan yang total dan penuh ialah roh, jiwa dan tubuh (I Tesalonika 5:23). Apollinarianisme disalahkan oleh Konsili dan Konstantinopel tahun 318 M dan dicap bidat.

E. Nestorian. Nestorius, Uskup di Konstantinopel, mengajar mengenai oknum Kristus, bahwa ada dua kepribadian yang tersangkut. Ia menolak persatuan yang sebenarnya dari kodrat yang Ilahi dan manusiawi di dalam Kristus, dengan mengatakan bahwa Logos (kepribadian yang Ilahi) berdiam di dalam Yesus Kristus (kepribadian yang manusiawi), menjadikan dua oknum yang berhubungan. Ia mengajukan Kristus sebagai manusia yang dipenuhi Roh, manusia yang dipenuhi Allah, tetapi bukan ke-Allahan yang sebenarnya dan manusia yang sebenarnya di dalam satu oknum. Cyrilus dari Alexandria menentang ajaran Nestorius dan Nestorius disalahkan dan dikucilkan oleh Sinode di Efesus tahun 431 M, bentuk Kenoticisme yang mengajarkan bahwa waktu Anak Allah menjadi manusia, Ia mengosongkan diriNya dari sifat-sifat Ilahi sehingga adalah sebagai manusia yang dapat melakukan kekeliruan intelektual dan kesalahan, sangat erat hubungannya dengan Nestorianisme.

F. Eutyehian. Dalam tahun 415 M bidat mengenai oknum Kristus beralih ke aliran lain. Ekutyches mengambil posisi ekstrim yang bertentangan dengan Nestorius. Ia berpegang bahwa Kristus hanya mempunyai satu kodrat dan kehendak, bukan dua kodrat atau kehendak, Ia mengajarkan bahwa kodrat yang Ilahi dan yang manusiawi itu demikian bercampur ke dalam yang satu sehingga sebenarnya telah membentuk kodrat ketiga. Ajaran ini menjadikan Kristus bukan Allah dan bukan manusia tetapi orang ketiga yang dihasilkan oleh percampuran dari yang dua walaupun keduanya berbeda. Ini mengurangi Kristus menjadi oknum yang bersifat “hebrida”. Eutyches berpegang bahwa segala sesuatu mengenai Kristus adalah Ilahi, malahan juga tubuhNya dan sifat manusiaNya.

G. Monofisit. Eutychianisme juga mengalir menjadi beberapa aliran yang lebih kecil, yang disebut secara singkat disini.

1. Monofisit adalah nama lain suatu cabang Eutychian karena mereka menekankan bahwa Kristus hanya mempunyai satu kodrat atau kehendak. Ini muncul dari kesulitan untuk melihat keharmonisan dan hubungan dua kodrat dan kehendak dalam satu oknum Kristus. Dalam tahun 680-681 M, Konsoli di Konstantinopel menyalahkan doktrin mereka dan berpegang bahwa Kristus sesungguhnya mempunyai dua kodrat yang berbeda, yang Ilahi dan yang manusia dan dengan demikian mengharuskan mempunyai dua inteligensi dan dua kehendak. Keduanya dalam kesatuan yang harmonis dimana kehendak yang manusia tunduk pada kehendak yang Ilahi.

2. Adopsionis sesungguhnya satu cabang dari Eutychianisme, Apolinarianisme dan Nestorianisme. Bidat ini mengajarkan bahwa kemanusiaan dari Kristus hanya dengan adopsi. Ini menolak kemanusiaan Kristus yang dilahirkan dan yang sekarang adalah kemanusiaan yang kekal. Sebelum mendefinisikan dan menafsirkan pandangan ortodoks mengenai oknum Kristus kami akan meringkaskan bidat-bidat penting yang telah dibicarakan.

Ebionit – menolak ke Allahan Kristus.

Gnostik – menolak kemanusiaan Kristus

Arian – mengajarkan bahwa Kristus adalah mahluk ciptaan.

Apollinarian – menolak persatuan kedua kodrat didalam Kristus, merendahkan Dia menjadi manusia yang dipenuhi dengan Allah.

Eutychian – menolak pembedaan kedua kodrat Kristus, jadi mengadakan kodrat ketiga atau hibrida dari keduanya.

Monofisit – menolak kedua kodrat dan kehendak di dalam satu oknum Kristus.

III. KARYA KRISTUS

Puncak dari doktrin mengenai oknum Kristus adalah yang mengenai Kristus sebagai Mediator, manusia Allah. Perjanjian Lama membayangkan sebelumnya kebenaran ini dan Perjanjian Baru menunjukkan penggenapannya di dalam Tuhan Yesus.

A. Wahyu Perjanjian Lama.

1. Ayub. Ayub waktu tertekan karena serangan iblis mengungkapkan tangisan hati semua manusia supaya ada mediator diantara Allah dan manusia. Ia menangis “O sekiranya seorang dapat membela (yaitu berunding, mendesak, memutuskan sebagai wasit) untuk manusia dan Allah, seorang manusia membela tetangganya” (Ayub 16:21 AV). Ia membela “Karena Dia bukan manusia seperti aku, sehingga aku dapat menjawabNya, mari bersama-sama menghadap pengadilan. Tidak ada wasit diantara kami, yang dapat memegang kami berdua” (Ayub 9:32-33). Baca juga Ayub 23:3-10; 19:25-27). Seorang wasit adalah hakim, juru pisah. Ia adalah mediator. Ia adalah seorang yang memberi respons, menyalahkan, memutuskan dan bertindak sebagai wasit diantara dua kelompok. Tangisan Ayub sesungguhnya untuk Mesias yang akan datang sebagai Mediator Allah dan manusia.

2. Mediator di Israel. Tugas sebagai mediator di Israel ditipekan pertama dalam Musa. Ia bertindak sebagai mediator perjanjian Hukum Taurat waktu Allah berbicara kepadanya secara langsung dan kemudian pada gilirannya ia berbicara kepada orang Israel. Musa digunung itu berdiri diantara Allah dan orang Israel sebagai mediator dalam penerimaan perjanjian Hukum Taurat (Ulangan 5:1-29; Galatia 3:19).

Waktu Tabernakel Musa ditahbiskan, Allah memerintahkan Musa untuk membawa kakaknya Harun dan menguduskan dia untuk jabatan Imam Besar kepada orang Israel. Dengan demikian Harun menjadi mediator di Israel. Semua orang Israel harus mendekati Allah dengan melalui Imam Besar yang diurapi dan yang ditunjuk ini. Melewati Harun, mediator yang ditunjuk Allah, adalah membawa penghukuman kepada diri sendiri (Ibrani 5:1-5; Bilangan 16:17).

Harun mewakili dalam keduabelas batu di dadanya, keduabelas suku Israel di muka Allah. Pelayanan imam oleh Harun membayangkan pelayanan mediator oleh Kristus. Buku Ibrani menyatakan Kristus sebagai seorang yang lebih besar dari Musa dan Harun dalam pekerjaanNya sebagai perantara (Ibrani 3:1-5; 5:1-10; 7:1-26).

B. Wahyu Perjanjian Baru.

1. Mediator Perjanjian Baru. Perjanjian Baru membawa ke wahyu sepenuhnya, di dalam oknum Kristus yang telah ditipekan di dalam pelayanan mediator Perjanjian Lama. Kata “Perantara” digunakan beberapa kali di dalam suratan-suratan, masing-masing menunjuk kepada Anak Allah. 1 Timotius 2:5 menyatakan “Karena Allah itu Esa dan Esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus.” Dalam Ibrani 9:15 dan 8:6, Yesus Kristus adalah “Pengantara Perjanjian Baru” Ibrani 12:24 menyatakan bahwa kita datang “kepada Yesus, pengantara Perjanjian Baru.” (Baca juga Galatia 3:19-20 Amplified).

Kata Grika “mesites” yang diterjemahkan “pengantara” berarti “pergi di antara”, yaitu secara sederhana, duta atau (implikasinya) pendamai, perantara”. Mediator adalah “orang di tengah” atau “seorang yang menempatkan diri di antara dua kelompok yang berbeda, dengan maksud untuk mendamaikan mereka.” Ialah jawaban atas tangisan Ayub dan penggenapan atas semua mediator Perjanjian Lama.

2. Mediator Manusia – Allah. Bila kita memperhatikan Yesus Kristus sebagai Mediator Perjanjian Baru kita menemukan bahwa pelayananNya sebagai Mediator jauh melebihi apa yang ditipekan oleh mediator Perjanjian Lama.

Alasan-alasan berikut menguatkan hal ini.

a. Mediator yang tanpa dosa. Kristus adalah Mediator tanpa dosa. Bertentangan dengan Musa dan Harun, yang keduanya membutuhkan penebusan dosa mereka sendiri, Kristus tidak membutuhkan penebusan. Ia adalah Imam Besar yang tak berdosa dan oleh sebab itu jauh melebihi setiap mediator Perjanjian Lama. Ia sesungguhnya “lebih baik” dari Musa dan Harun (Ibrani 5:1-5; 8:1-4; 10:1-11).

b. Mediator Manusia-Ilahi. Kristus bukan saja mediator yang tak berdosa, tetapi Ia juga sebagai Mediator sempurna yang adalah oknum manusia-Ilahi. Mediator dalam pengertian sebenarnya dari kata itu harus sanggup memahami secara sempurna kelompok yang perlu didamaikan. Ia harus sanggup beridentifikasi dengan kedua kelompok supaya dapat mengantarai secara efektif diantara mereka. Dengan kata lain, bila Yesus harus menjadi mediator yang sempurna di antara Allah yang kudus dengan manusia berdosa Ia harus memiliki kodrat Allah dan kodrat manusia (terkecuali dosa) untuk mengerti sepenuhnya keduanya dan mengefiktifkan pendamaian di antara mereka. Musa dan Harun tidak pernah dapat melakukan hal ini sepenuhnya, karena mereka hanya mempunyai satu kodrat, kodrat manusia berdosa. Untuk alasan yang sama, tidak ada dari iman Perjanjian Lama yang dapat menjadi mediator yang sempurna.

Yesus Kristus adalah manusia-Allah. Ia adalah Allah, memiliki kodrat Allah, jadi diidentifikasikan dengan Allah dan kekudusanNya yang sempurna. Ia juga menjadi manusia, memakaikan kemanusiaan yang tidak berdosa kepada DiriNya dan dengan demikian mengidentifikasikan dengan Allah dan kekudusanNya yang sempurna. Ia juga menjadi manusia, memakaikan kemanusiaan yang tidak berdosa dengan DiriNya dan dengan demikian mengidentifikasikan dengan manusia. Persatuan kodrat Ilahi dan manusia dalam satu oknum Kristus memberi kualifikasi kepadaNya untuk menjadi mediator yang sempurna di antara Allah dan manusia. Ibrani 2:17 menyatakan itulah sebabnya, maka dalam segala hal Ia harus disamakan dengan saudara-saudaraNya, supaya Ia menjadi Imam Besar yang menaruh belas kasihan dan yang setia kepada Allah untuk mendamaikan dosa seluruh bangsa.” Karena mempunyai kodrat Ilahi, Ia setia kepada Allah, dan karena mempunyai kodrat manusia Ia sanggup berbelas kasihan kepada manusia. Tetapi ini bukan belas kasihan yang mengorbankan kesetiaan kepada Allah. Dosa harus ditangani dalam suatu cara yang menegakkan kekudusan dan kebenaran Allah. Hanya dengan demikian belas kasihan dan kasih karunia dapat diperluas kepada manusia di dalam mengadakan pendamaian. Dalam Kristuslah tangisan Ayub supaya ada wasit “yang dapat menangani kita berdua” mendapatkan penggenapan yang sempurna (Ayub 9:32-33).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: