• Penanggalan Ibrani

    Maret 2008
    S S R K J S M
        Apr »
     12
    3456789
    10111213141516
    17181920212223
    24252627282930
    31  
  • INFORMASI PENTING

  • Pendapat Anda

    josysuitela di HIPNOTIS ALKITABIAH ATAU …
    josysuitela di HIPNOTIS ALKITABIAH ATAU …

BIBLIOLOGI

YHWH adalah YHWH yang berkenan menyatakan diri-Nya. Ia adalah Tuhan yang berkenan menyatakan diri-Nya kepada ciptaan-Nya. Hanya YHWH yang dapat mengungkapkan diri-Nya sehingga diketahui manusia. Elohim yang disaksikan dalam Alkitab adalah YHWH yang berfirman. Firman YHWH dinyatakan kepada manusia dengan wahyu. Wahyu yang terbesar dan paling utama ialah YHWH sendiri yang menjelma menjadi manusia yaitu Tuhan Yesus Kristus. Ialah Firman atau Logos yang berinkarnasi menjadi manusia. “Pada mulanya adalah Firman. Firman itu bersama-sama dengan YHWH dan Firman itu adalah YHWH.” (Yohanes 1:1,2). “Firman itu telah menjadi manusia dan diam di antara kita…” ( Yohanes 1:14 ). “Setelah pada zaman dahulu Elohim berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada akhir zaman ini ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan anak-Nya…” ( Ibrani 1:1,2 ).

Elohim berkenan bahwa semua wahyu-Nya kepada manusia tertulis dalam buku yang kita katakan Alkitab. Alkitab juga berisi kesaksian tentang usaha manusia untuk bertemu dengan Elohim. Oleh sebab itu penting sekali memahami mengenai asalnya Alkitab, otoritasnya, tidak kelirunya Alkitab serta inspirasi Ilahi atas Alkitab. Hal-hal inilah yang dibicarakan dalam Bibliologi.

 

I. NAMA-NAMA KITAB SUCI

A. Alkitab. Nama umum untuk buku Firman Elohim adalah Alkitab. Ini dikatakan misalnya dalam Lukas 4:16, “Ia datang ke Nazaret tempat Ia dibesarkan… Ia masuk ke rumah Ibadat, lalu berdiri hendak membaca dari Alkitab.” Dalam bahasa Inggris dikatakan Bible, yang berasal dari Bahasa Grika Biblios.

B. Nama-nama lain. Alkitab juga dikatakan sebagai Kitab Suci ( Markus 12:24; Lukas 24:27; Yohanes 2:22; Yohanes 20:9; Kisah 17:11; 18:28; 1 Korintus 15:3; 2 Timotius 3:15; 2 Petrus 1:20 ). Dalam Roma 1:2 dikatakan sebagai Kitab-Kitab Suci.

Ungkapan lain yang banyak digunakan yaitu Firman Elohim ( Markus 7:13; 2 Korintus 2:17; 1 Tesalonika 2:13; Ibrani 4:12 ) dan adakalanya dikatakan sebagai Firman Kristus ( Roma 10:17 ).

 

II. PARAPENULIS KITAB SUCI

Alkitab adalah salah satu Buku, tetapi juga terdiri dari banyak buku yang ditulis oleh sekurang-kurangnya 40 penulis yang berbeda-beda, dalam periode tak kurang dari 1500 tahun, kebanyakan dari mereka tak pernah saling mengenal. Namun Alkitab adalah satu kesatuan yang kesinambungannya demikian jelas dan dapat saja dipikirkan seolah-olah buku itu hanya punya seorang penulis, yaitu Elohim sendiri.

Dari keenampuluh enam buku di Alkitab, yang 55 dikenal baik penulisnya di sejarah dan tradisi. Yang 11 buku para penulisnya tidak diketahui adalah Hakim-hakim, Rut, 1 & 2 Samuel, 1 & 2 Raja-raja, 1 & 2 Tawarikh, Ester, Ayub dan Ibrani. Beberapa buku seperti Kejadian, Hakim-hakim, 1 & 2 Raja-raja dan 1 & 2 Tawarikh meliputi masa yang panjang dalam sejarah sehingga merupakan kemungkinan bahwa buku-buku ini berupa kumpulan catatan-catatan kuno yang digabungkan dan diedit oleh beberapa orang yang dipilih Elohim, yaitu yang ada di akhir periode waktu yang dilukiskan di buku tersebut. Sebagai contoh, Musa mungkin merupakan pengumpul sumber-sumber yang menjadi buku kejadian. Mazmur dan Amsal adalah buku-buku yang ditulis oleh lebih dari seorang. Judul-judul yang ada pada sejumlah Mazmur menyarankan ada sekitar 7 penulis yang berbeda-beda. Sebagai penulis Amsal adalah Salomo, Agur ( 30:1 ) dan raja Lemuel ( 31:1 )

Semua penulis, terkecuali Lukas, adalah orang-orang Israel/Yahudi dan menulis dalam konteks agama Yahudi atau Kristen. Namun kata-kata yang mereka tulis mempunyai daya tarik universal bagi semua bangsa di seluruh dunia.

Menarik untuk diperhatikan berbagai latar belakang pekerjaan penulis-penulis yang dapat diketahui yaitu:

Dua penulis adalah Raja – Daud dan Salomo

Dua penulis adalah Imam – Yeremia dan Yehezkiel

Lukas seorang Dokter

Dua penulis adalah Nelayan – Petrus dan Yohanes

Dua penulis adalah Gembala – Musa dan Amos

Paulus seorang Farisi dan Theolog

Daniel seorang Negarawan

Matius seorang Pemungut Cukai

Yosua seorang Tentara

Ezra seorang Ahli Kitab

Nehemia seorang Juru Minuman

 

III. KESATUAN ALKITAB

Bersamaan dengan adanya perbedaan besar, Alkitab juga memiliki kesatuan yang menakjubkan. Perbedaannya sangat jelas yaitu terdiri dari enampuluh enam buku yang berbeda-beda yang ditulis dalam jangka waktu 1500 tahun. Buku-buku ini ditulis oleh sekitar 40 penulis yang berbeda-beda, yang hidup dalam budaya dan negara yang berbeda-beda, dari Mesir sampai Roma ke Babilon. Tulisan mereka meliputi hampir setiap jenis sastra, termasuk sejarah, hukum, puisi, nubuat, biografi, nyanyian, surat, perumpamaan dan Amsal. Adalah suatu mujizat bahwa mereka menghasilkan sebuah buku yang menjadi satu secara ajaib, dimana setiap penulis menyumbangkan bagian tertentu yang diperlukan, yang serasi dan tidak bertentangan dengan keseluruhannya.

l. Keharmonisan Pembagian Buku-buku

a. Perjanjian Lama.

Buku-Buku Perjanjian Lama

*** Taurat = Sejarah = 17 Buku (5 Pentateukh + 12 Buku-buku sejarah)

5 Pentateukh/Pentateukh Historis (Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, Ulangan).

12 Buku sejarah ( 9 Sejarah Pra Pembuangan + 3 Sejarah Pasca Pembuangan ).

9 Buku Sejarah Pra Pembuangan (Yosua, Hakim-hakim, Rut, 1 & 2 Samuel, 1 & 2 Raja-raja, 1 & 2 Tawarikh).

3 Buku Pasca Sejarah (Ezra, Nehemia, Ester).

*** Mazmur = 5 Buku Puisi = Puisi Hati (Ayub, Mazmur, Amsal, Pengkhotbah, Kidung Agung).

*** Nabi-Nabi = 17 Buku Nubuat = { 5 Buku Nubuat Nabi-Nabi Besar = Pentateukh Nubuat ( Yesaya, Yeremia, Ratapan, Yehezkiel, Daniel ) + 12 Buku Nubuat Nabi-Nabi Kecil }

12 Buku Nubuat Nabi-Nabi Kecil = { 9 Nubuat Pra Pembuangan (Hosea, Yoel, Amos, Obaja, Yunus, Mikha, Nahum, Habakuk, Zefanya) + 3 Nubuat Pasca Pembuangan (Hagai, Zakharia, Maleakhi) }

b. Perjanjian Baru.

*** Sejarah Perjanjian Baru = Dasar Historis = 5 Buku ( Matius, Markus, Lukas, Yahya, Kisah).

*** Surat-Surat Doktrin ( Surat-surat Gereja Kristen = 9 Buku = Roma, 1 & 2 Korintus, Galatia, Efesus, Filipi, Kolose, 1 & 2 Tesalonika).

Surat-Surat Pastoral & Pribadi = 4 Buku (1 & 2 Timotius, Titus, Filemon).

Surat-Surat Kristen = 9 Buku (Ibrani, Yakobus, 1 & 2 Petrus, 1,2 & 3 Yohanes, Yudas, Wahyu).

IV. KANON DARI KITAB-KITAB SUCI

Kata “kanon” berasal dari Bahasa Grika kanon, yang berarti tongkat pengukur, dan berarti suatu ukuran, suatu standard. Jadi kanon Alkitab berisi nama buku-buku yang dianggap layak dimasukkan dalam kitab suci. Kanonisasi dihasilkan dalam perkembangan berabad-abad, yang hasilnya bahwa hanya tulisan-tulisan yang terbukti bermanfaat untuk iman dan penyembahan yang diresmikan untuk termasuk dalam kanon. Dapat dikatakan bahwa kanon tidak ditentukan para Rabbi atau Gereja dan dekritnya, tetapi sebenarnya dihasilkan oleh mutu intrinsik tiap-tiap buku dan oleh penerimaan masyarakat yang beribadah dan ini membuktikan bahwa tulisan-tulisan itu diinspirasikan atau karena terbukti menguatkan umat.

A. Kanon Perjanjian Lama. Alkitab tidak mengatakan mengenai kapan kanon Alkitab itu diadakan. Ada catatan di Alkitab tentang penulisan peristiwa-peristiwa yang dikatakan dalam Alkitab. Catatan pertama tentang penulisan terdapat di Keluaran 17:14, “Tuliskanlah semuanya ini dalam sebuah kitab sebagai tanda peringatan…” Kemudian di Keluaran 24:4 dikatakan, “Lalu Musa menuliskan segala Firman Tuhan itu.” Dalam Ulangan pasal 31 disaksikan mengenai Musa menuliskan hukum Taurat, yang harus dipelihara dan dibacakan kepada umat Israel setiap 7 tahun. Peristiwa ini menandai dengan baik awal dari kanon Perjanjian Lama. “Ketika Musa selesai menuliskan perkataan hukum taurat itu dalam sebuah kitab sampai perkataan-perkataan yang penghabisan, maka Musa memerintahkan kepada orang-orang Lewi pengangkut tabut perjanjian Tuhan, demikian “Ambillah kitab Taurat ini dan letakkanlah di samping tabut perjanjian Tuhan Elohimmu, supaya menjadi saksi di situ terhadap engkau.” Ulangan 31:24-26. Yosua juga menuliskan perkataan-perkataan dalam kitab hukum YHWH Yosua 24:26. Samuel mencatat peristiwa-peristiwa penting dalam hidupnya dalam sebuah buku 1 Samuel 10:25. Nabi-nabi yang kemudian menulis buku-buku seperti yang dikatakan “Datanglah Firman ini dari Tuhan kepada Yeremia, bunyinya: “Ambillah kitab gulungan dan tulislah di dalamnya segala perkataan yang telah Ku firmankan kepadamu…” Kemudian waktu umat berkumpul kembali di Yerusalem sesudah penawanan Babilon, hukum Musa dibaca dan dihormati Nehemia 8:1-8. Sebelumnya Raja Yosia yang memerintah di Yehuda mendapat laporan bahwa buku hukum Taurat Tuhan yang telah hilang telah ditemukan 2 Raja-raja 22:8. Inilah catatan-catatan mengenai apa yang kemudian menjadi Kitab Suci Perjanjian Lama.

Ahli-ahli menyimpulkan bahwa buku-buku Taurat mulai dikanonkan di masa Ezra ( 444 SM ); buku-buku Nabi-nabi dikenal sebagaimana sekarang pada sekitar tahun 200 SM dan bahwa tulisan-tulisan mendapat kewenangannya pada sekitar tahun 100 SM. Jadi ada 3 kelas tulisan yang di antara sekitar tahun 450 SM sampai 100 SM yang berada di atas sebagai dasar, yang perlahan-lahan menjadi berwewenang. Tidak diragukan lagi bahwa pada masa Yesus Kristus, Kitab Suci Perjanjian Lama sudah menjadi kanon. Di antara kesaksian mengenai hal ini ada di Lukas 24:27, “Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi.

Dalam Alkitab Kristen ada 39 buku di Perjanjian Lama, sementara Perjanjian Lama Yahudi berisi 24 buku. Perbedaan ini terjadi karena 12 buku Nabi-nabi Kecil (dari Hosea sampai Maleakhi) hanya merupakan satu buku; juga buku-buku yang merupakan satu buku yaitu: 1,2 Samuel; 1,2 Raja-raja; 1,2 Tawarikh dan Ezra-Nehemia. Jadi tak ada perbedaan perkataan di dalamnya. Ahli sejarah Yahudi, Yosephus, menghitung hanya 22 buku, karena ia menggabungkan Rut dengan Hakim-hakim, Ratapan dengan Yeremia.

B. Apokrifa. Apokrifa menunjuk kepada buku-buku Apokrif, yaitu 14 buku yang ditambahkan pada Perjanjian Lama, yang dianggap oleh sebagian kalangan sebagai kanon Perjanjian Lama, terutama kalangan Katolik Roma. Kalangan Protestan biasanya tidak mencantumkan Apokrifa dalam Alkitab. Secara harafiah Apokrifa berarti yang tersembunyi atau yang dirahasiakan. Septuaginta (LXX), yaitu terjemahan Perjanjian Lama ke dalam bahasa Grika yang dilakukan di antara tahun 280 M dan 180 M berisi buku-buku Apokrifa ini. Yerome memasukkan juga Apokrifa dalam terjemahan Perjanjian Lama yang disebut Vulgata. Kalangan Protestan tak memasukkan buku-buku Apokrifa dalam Alkitab karena tidak konsisten dengan doktrin. Keempatbelas buku yang tergolong Apokrifa adalah sebagai berikut: 1 Esdras, 2 Esdras, Tobit, Yudit, Sisa dari Ester, Hikmat Salomo, Pengkhotbah, Barukh dan surat Yeremia, Nyanyian Tiga Anak Kudus, Sejarah Susana, Bel dan Naga, Doa Manase, 1 Makabe, 2 Makabe.

C. Kanon Perjanjian Baru. Buku-buku Perjanjian Baru ditulis pada parohan kedua abad pertama. Waktu Gereja Kristen baru mulai, mereka hanya memiliki Perjanjian Lama sebagai dasar untuk iman mereka, ditambah dengan perkataan Yesus Kristus dan perkataan-perkataan para Rasul. Dengan demikian tulisan-tulisan para Rasul yang menjadi Injil-injil dan tulisan-tulisan lainnya digunakan bersama-sama dengan Perjanjian Lama yang sudah ada sebelumnya. Mengenai kewenangan para rasul, itu adalah karena pergaulan langsung dengan Yesus Kristus. Yohanes mengatakan mengenai hal ini, “Apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga…” ( 1 Yohanes 1:3 ). Petrus mengatakan bahwa mereka “adalah saksi mata dari kebesaran-Nya” 2 Petrus 1:16.

Dengan demikian orang-orang percaya dikatakan bahwa “mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan.” Kisah 2:42.

Karena surat-surat Paulus ditulis untuk memenuhi kebutuhan khusus sidang jemaat atau pribadi tertentu, surat-surat ini dipelihara karena nilai rohaninya dan mungkin dibaca di gereja-gereja. Malahan pada kesempatan tertentu Paulus meminta supaya surat-suratnya dibacakan dan diedarkan. Oleh sebab itu surat-surat Paulus ada yang disalin dan diedarkan. Dengan demikian ada sidang-sidang jemaat yang mempunyai kumpulan surat-surat Paulus.

Petrus membuat surat untuk diedarkan kepada “orang-orang pendatang yang tersebar di Pontus, Galatia, Kapadokia, Asia Kecil dan Bitinia” 1 Petrus 1:1. Ini juga menambah bukti bahwa banyak sidang jemaat yang mempunyai kumpulan tulisan-tulisan rasul-rasul. Mengenai tulisan-tulisan Paulus, ia mengatakan: “Seperti juga Paulus, saudara kita yang kekasih, telah menulis kepadamu menurut hikmat yang dikaruniakan kepadanya.” 2 Petrus 3:15. Ini bukti bahwa tulisan-tulisan Paulus telah tersebar luas dan banyak sidang jemaat yang memilikinya.

Dalam abad kedua terasa pengaruh para bapa Gereja. Dalam tulisan para guru dan pemimpin Gereja, mereka mengutip tulisan-tulisan para bapa Gereja, yaitu yang telah menjadi Perjanjian Baru. Surat-surat ini telah menjadi bukti yang jelas mengenai nilai buku-buku yang telah menjadi Perjanjian Baru itu.

Sesuatu yang di luar dugaan, seorang yang menganut ajaran yang tidak sepenuhnya benar, Marcion, (140 M) yang menyatakan bahwa beberapa buku tertentu menurut pendapatnya memang diinspirasikan dan dimasukkannya dalam kanonnya, Kanon Marcion. Buku-buku yang diakui dalam kanon Marcion adalah Lukas dan 10 surat Paulus. Ia menolak surat-surat penggembalaan, Ibrani, Markus, Yohanes, Kisah, Surat-surat Umum dan Wahyu. Akibatnya muncul banyak kritik, dan diadakanlah studi yang lebih mendalam atas buku-buku yang ditolak Marcion. Pada akhir abad kedua sudah 20 buku dari Perjanjian Baru yang diterima sebagai kanon. Tujuh buku yang belum sepenuhnya diterima adalah buku-buku berikut: Ibrani, 2 Yohanes, 3 Yohanes, 2 Petrus, Yudas, Yakobus dan Wahyu.

Suatu pengalaman dalam sejarah mempercepat terbentuknya kanon yang diakui semua orang Kristen. Pada masa Kaisar Diocletian (302) memerintahkan bahwa semua buku yang termasuk Kitab Suci harus dibakar, orang-orang Kristen mau berkorban demi kepentingan buku-buku yang termasuk Kitab Suci itu. Tetapi timbul masalah yaitu buku-buku manakah yang termasuk Kitab Suci Perjanjian Baru itu.

Kemudian Constantin, Kaisar yang menggantikan Diocletian, memeluk agama Kristen, dan Ia memerintahkan Eusebius, Uskup Kaisarea yang adalah ahli sejarah Gereja, untuk menyiapkan 50 salinan Perjanjian Baru. Dengan demikian pada akhir abad keempat, maka semua 27 buku telah diterima. Setelah diputuskan, tak ada lagi usaha untuk menambah atau mengurangi buku-buku di dalam Perjanjian Baru.

Prinsip-prinsip yang digunakan untuk menentukan penerimaan dalam kanon yaitu:

– Kerasulan. Apakah buku itu ditulis oleh salah seorang rasul atau seorang yang dekat dengan rasul?

– Isi Kerohanian. Apakah buku itu dibacakan di Gereja-gereja dan apakah isinya terbukti membawa kekuatan rohani? Ini adalah test praktis.

– Sehatnya Doktrin. Apakah isi buku itu secara doktrin sehat? Buku yang berisi hal-hal yang sesat, atau yang bertentangan dengan apa yang telah diterima di kanon, ditolak.

– Penggunaan. Apakah buku itu digunakan secara universal, dikenal di Gereja-gereja dan apakah buku itu dikutip secara luas oleh bapa-bapa Gereja?

– Inspirasi Ilahi. Apakah buku itu memberi kesaksian yang benar mengenai inspirasi Ilahi? Ini adalah test terakhir dan yang terpenting.

 

Powered by Qumana

Satu Tanggapan

  1. Saran saya sih, klo bisa Seluruhnya jangan dimunculin di halaman utama.
    Jadi yg dihalaman utama hanya judul & sekilas aja yg udah di link.
    BTW, terus maju & semakin baik
    Tuhan Yesus memberkati kita semua

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: