GEREJA YANG MENGABDI (Kisah 2:40-47)

Data Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), ada 86 aliran gereja yang tercatat sebagai anggota PGI, ini belum termasuk jumlah gereja yang tergabung dalam Persekutuan Injili Indonesia (PII, PWI, dan Lembaga sinode lainnya).
Seharusnya dengan jumlah yang sedemikian gereja memiliki pengaruh signifikan bagi keadaan negeri ini. Dalam Kisah 2:40-47 yang sedang kita baca, jumlah orang percaya pada waktu itu kurang dari 10,000 orang namun mereka dapat mempengaruhi bahkan dikatakan mampu menguncangkan dunia.(lih. Kis 17:6)
Sebaliknya keadaan Kekristenan di Indonesia, jauh berbeda, jumlah gereja dan sinode yang terus bertambah nampaknya tidak banyak memberi pengaruh bagi perbaikan bangsa ini.
Sebuah opini yang berkembang dalam masyarakat kristen adalah bahwa tugas untuk menyelesaikan masalah-masalah yang muncul dalam masyarakat bukanlah tugas bagi gereja, karena gereja hanya berhubungan dengan masalah-masalah rohani saja. Ini terjadi karena gereja sangat dipengaruhi oleh cara pandang yang dikotomis tentang dunia. Pandangan yang menekankan tentang keberadaan (eksistensi) dua alam yang independen, terpisah, tidak dapat direduksi/dikaitkan bahkan alam atas lebih baik daripada alam bawah yang merupakan pandangan dualisme. Implikasi praktis bagi gereja yang terpengaruh (sadar atau tidak sadar) pandangan ini adalah memperlakukan realitas-realitas materi dengan masa bodoh, acuh tak acuh bahkan malah membencinya.
Pelayanan yang utuh pada hakekatnya menghubungkan secara tepat dan benar tiga sisi Tugas Panggilan Gereja yaitu Koinonia (Persekutuan), Marturia (Kesaksian) dan pelayanan (Diakonia).
Dalam Kisah 2:40-47 ini terlihat para rasul dan orang-orang percaya melaksanakan tiga tugas panggilan tersebut secara utuh. Ini adalah pola yang Yesus juga lakukan saat ia melakukan pelayanannya di dunia. Dalam Mark. 3:14-15, Yesus menetapkan 12 murid (bentuk persekutuan) untuk menyertai Yesus dan diutus memberitakan Injil (Marturia) dan diberi-Nya kuasa untuk mengusir setan (Diakonia). Ketiga tugas panggilan ini harus saling terkait, karena persekutuan gereja harus terarah keluar yaitu Persekutuan yang bersaksi dan melayani.
Oleh karena itu pelayanan utuh dari ciri Gereja yang mengabdi dapat dirumuskan sebagai berikut : “Gereja yang seutuhnya memberitakan Injil yang seutuhnya tentang Kristus yang seutuhnya bagi manusia dan dunia seutuhnya”. Gereja yang mengabdi artinya tidak terlepas satu dengan yang lain, dan selalu dalam kebersamaan dengan pihak lain. Injil seutuhnya artinya Injil bukan hanya tentang keselamatan jiwa tetapi juga tentang keadilan, kebenaran, perdamaian dan kesejahteraan.

Blog Review on Jawaban.com

Terima kasih untuk Jawaban.com yang telah memberikan blog review atas blog GKRI JDC, ini berdampak dengan kenaikan pengunjung blog sederhana ini. Kami senang dapat bekerja sama dan terima kasih atas kritik dan saran yang diberikan kepada kami. Begitu juga kami ucapkan terima kasih atas kunjungan setia dari pemerhati blog ini, khususnya jemaat JDC dan GKRI . Dukungan doa saudara sekalian pasti berdampak bagi kami untuk terus berkarya demi pembangunan tubuh Kristus.

KUASA BELAS KASIHAN Mat 9:35-38

Definisi Belas kasihan: “Menampakan rasa simpati bagi penderitaan sesama, seiring keinginan untuk menolong” (Encarta Dictionary)
Adalah suatu keadaan kebahagiaan pribadi baik secara mental dan emosional dan memahami hidup secara bermakna yang mampu memiliki belas kasih. Ketika itu terjadi, karakter itu bersinar melalui diri nya. Ini menembus setiap tindakan dan kata – dan kehadiran orang tersebut akan menjadi kekuatan penyembuhan
Yesus adalah pribadi yang digerakkan oleh sifat belas kasihan yang besar.Bahkan TUHAN lebih menyukai belas-kasihan, dari pada persembahan dan penyembahan kita. (Mat 9:13)
Apa dampak bila kita memiliki belas kasihan?
1. BELAS KASIHAN MERUPAKAN PENGGERAK YANG DAHSYAT
“Belaskasihan” menggerakan – tindakan
Hati Yesus tergerak oleh belas-kasihan, kedatangan Yesus ke bumipun digerakkan oleh kuasa belas-kasihan?! Tangisan Yesus (Yoh. 11: 35, Jesus wept) telah membangkitkan Lazarus dari kematiannya.
Semuanya karena belas kasihan!

2. BELAS KASIHAN MEMBANGKITKAN KEBERANIAN
Yesus telah menebus kita dari perhambaan dosa, mengangkat kita dari hidup yang sia-sia menjadi berarti, dari miskin menjadi kaya, dari tak terpandang menjadi terpandang. (berada dalam kondisi yang bahagia). Keberanian untuk menyatakan bahwa seluruh milik saya adalah milik TUHAN sendiri, dititipkanNya kepada saya!. Dalam budaya Ibrani tidak dikenal kata ‘memiliki’. Itulah sebabnya di dalam Alkitab sering ditemukan pernyataan ‘yang ada padaku (padanya)’! Bukan milikku, melainkan yang ada padaku. Berarti harta kita adalah milik Tuhan. Keberanian untuk menyerahkan segala yang ada sebagai persembahan yang hidup, kudus dan berkenan (Rom 12:1-2)

3. BELAS KASIHAN MEMIUTANGI TUHAN

Sesungguhnya hidup di dalam berbelas-kasihan, adalah demi keuntungan manusia sendiri. Sebab Amsal 19: 7 mengajarkan: Siapa menaruh belas kasihan kepada orang yang lemah memiutangi TUHAN, yang akan membalas perbuatannya itu.
Mzm. 126: Yang menabur dengan air-mata akan menuai banyak,

MINTA ROH BELAS KASIHAN

Jika anda mau menyaksikan kuasa belas kasihan bekerja didalam kehidupan anda, serta menikmati janji-janji TUHAN yang berkaitan dengan belas kasihan mintalah kepada TUHAN maka kita akan menerimanya.

Konser Album Baru Doen Moen

Don-Moen-Kembali-Gelar-Konser-di-Indonesia-Bertajuk-“I-Believe-There-is-More”Jakarta- Setelah delapan belas bulan absen meluncurkan album rohani, kali ini Don Moen kembali hadir dengan album barunya “I Believe There is More”
Untuk memperkenalkan albumnya Doen Moen mengadakan tour keliling dunia. Selasa (15/9) malam di gedung Istora Senayan, Jakarta konser album baru Doen Moen digelar. Selain mengadakan konser, Doen Moen bersama timnya juga melakukan Workshop Musikal, mulai mengenai sound engineer, multimedia, song writing, sampai worship leading.

Don Moen, malam itu menyanyikan 25 lagunya, diantaranya How Great is Our God dan Mi Corazon yang merupakan lagu yang banyak disukai oleh para penggemar Don Moen. Meskipun usianya saat ini 59 tahun, namun suara vokal Moen masih khas dan tetap sama seperti dahulu saat dia menyanyikan setiap lagu-lagunya.
Don Moen juga akan menggelar Konser dan Workshop berikutnya pada 16-17 September mendatang di Graha Bethany, Surabaya.

Akar kekristenan(Fenomena Mesianik Yudaisme-Kristen)

MessianicAkhir-akhir ini, suatu minat baru dalam dunia teologi dan keagamaan dalam tubuh Kekristenan, mulai mengarahkan diri pada penggalian dan pengkajian tentang akar Kekristenan, khususnya
kaitan Kekristenan dengan Kesemitikan yang mewakili peradaban Timur. Paling tidak, ada beberapa arus dalam kekristenan yang concern dengan kajian-kajian Kesemitikan maupun Ketimuran.
Pertama, komunitas Mesianik Yudaisme dan Mesianik Yahudi.

Fenomena Mesianik Yudaisme Messianic Judaism] adalah suatu kebangkitan spiritual yang terjadi dikalangan unsur-unsur Yudaisme dan bangsa Yahudi yang mulai merespon ajaran Yahshua [Aram,‘Yeshu’, Greek, ‘Iesous’, Ind, ‘Yesus’] Sang Mesias yang dijanjikan namun tidak menyebut diri mereka sebagai Kristen dan Gereja dan mereka tetap memelihara gaya hidup dan tata ibadat Yudaisme, namun dalam terang ajaran Yahshua Sang Mesias. DR. Michael Shiffman mendefinisikan Mesianik Yudaisme sebagai:

“Messianic Jews are physical descendants of the patriarchs, being Jewish by birth, but are not adherents to the authority of rabbinic tradition”

[Mesianik Yudaisme adalah keturunan para leluhur secara jasmani, yang menjadi Yahudi melalui kelahiran namun tidak mengikuti otoritas tradisi kaum rabinik]

Sementara itu DR. David Stern memberikan definisi sbb:

“A person who was born Jewish or onverted to Judaism, who is genuine believer in Yeshua, and who acknowledge his Jewishness”

[Seseorang yang dilahirkan menjadi seorang Yahudi atau masuk ke dalam agama Yahudi, yang beriman kepada
Yeshua serta mengakui keyahudian Yeshua]

DR. John Fischer memberikan deskripsi mengenai Mesianik Yudaisme dengan mengatakan:
“The convictions of these congregations are uniqe. They are
convinced that they can believe in Jesus, be thoroughly biblical, and yet authentically Jewish. They affirm Jesus, as Messiah, Savior and Lord of the universe. They adhere to the entire Bible as the inspired Word of God and refuse to do anything contrary to its teachings. Thy feel a kinship and commitment to the entire body of the Messiah. Yet they express their faith, lifestyle and worship in Jewish form and in Jewish ways”

[Keyakinan kumpulan jemaat ini adalah unik. Mereka mengakui bahwa mereka dapat mempercayai Yesus sesuai Kitab Suci, namun yang secara otentik adalah seorang Yahudi pula. Mereka menyetujui bahwa Yesus sebagai Mesias, Juruslamat dan Tuan atas alam semesta. Mereka menerima keseluruhan Kitab Suci sebagai Firman Tuhan yang diilhamkan dan menolak segala sesuatu yang bertentangan ajaran-Nya. Mereka merasakan suatu kekeluargaan dan kesetiaan terhadap seluruh anggota tubuh Mesias. Namun mereka mengekspresikan iman mereka, gaya hidup mereka dan ibadah mereka dalam bentuk dan tata cara Keyahudian]

Dari tiga definisi di atas, kita mendapat tiga karakteristik umum dan
khas dari Mesianik Yudaisme, yaitu:
Pertama, suatu pergerakan spiritual dikalangan komunitas Yahudi [bangsa] dan Yudaisme [agama]. Kedua, mereka beriman pada Yahshua sebagai Mesias dan menerima TaNaKh dan Brit Khadasha [Perjanjian Baru], sebagai kitab suci yang diilhamkan Ruakh ha Kodesh.Ketiga, mereka tetap mempertahankan gaya hidup, tradisi dan kebudayaan luhur Yahudi yang dipelihara berabad-abad, sebagai warisan kebudayaan suatu bangsa. Mengenai sejarah singkat pergerakan Mesianik Yahudi dan Mesianik Yudaisme telah saya ulas secara singkat dalam tulisan lain

Kedua, Gereja Orthodoks. Di Indonesia, gerakan ini dimotori oleh Bambang Noorsena [Orthodoks Timur yang berbahasa Arab, Syria] dan Daniel Bambang [Orthodoks Barat, yang berbahasa Yunani]. Dalam berbagai kajian, artikel, buku-buku Bambang Noorsenan
khususnya, sarat dengan mempromosikan Kekristenan Timur
khususnya Gereja Orthodoks Syria. Berkaitan dengan visinya, Bambang Noorsena menjelaskan, “Berangkat dari pergumulan seperti itulah, lahir visi saya untuk menghadirkan kekristenan Timur Tengah sebagai wacana [bukan sebagai gereja] dalam rangka
‘menjembatani’ kesenjangan yang cukup tajam antara Kristen-Islam
di Indonesia….Dari gereja-gereja oriental itu, saya masih mengkhususkan pilihan lagi, yaitu kekristenan Syria, khususnya
Gereja Ortodoks Syria Anthiokhia [Kanisat al Anthakiat al Suryaniyat
al-Orthodoksiyat]. Kekristenan tersebut kini berpusat di damascus,
Syuriah. Mengapa? Sebab dari kajian sejarah dan budaya gereja-
gereja Arab yang saya lakukan di Timur Tengah, khususnya gereja
Arab yang saya lakukan di Timur Tengah, khususnya Gereja
Ortodoks Syria yang berpusat di Bab Touma, Damascus, saya menemukan banyak ‘meeting point’ dengan Islam yang dapat diagendakan dalam dialog kedua iman. Baik dari sudut historis, kultural maupun teologis”

Ketiga komunitas gereja dari berbagai aliran di luar Indonesia dan di Indonesia yang merespons kajian-kajian yang dimotori baik oleh komunitas Mesianik Yudaisme maupun Yahudi serta komunitas
Gereja Orthodoks. Sejak Tahun 2006, pergerakan pemulihan Nama Yahweh yang sekarang berkembang menjadi pemulihan kemesianikan,dapat dipetakan berdasarkan karakteristik penekanannya, adalah sbb:

1. Komunitas Yahweh only
Mereka yang dikategorikan sebagai “Yahweh only”, nampaknya
memahami gerakan ini sebagai suatu bentuk memperjuangkan penggunaan nama Yahweh dalam terjemahan Kitab Suci, dalam berbagai kotbah di mimbar rumah ibadah, dalam berbagai tulisan-tulisan. Seiring dengan itu, penolakkan terhadap penggunaan nama Allah dalam tradisi Kristiani di Indonesia.

Mereka sangat bergiat membuat literatur dalam bentuk traktat,
brosur, buku penjelasan, dll untuk meyakinkan orang-orang Kristen di Indonesia untuk menolak keberadaan nama Allah dan pentingnya penggunaan nama Yahweh. Tidak terbersit untuk memperluas makna dan aplikasi perjuangan penggunaan nama Yahweh dalam konteks yang lebih luas, yaitu dalam pokok iman, teologi, tata ibadah dan etika. Yang penting semua pendeta, atau organisasi gereja yang digembalakannya dan para pimpinan serta pengajar sekolah teologi Kristen telah menyadari dan  menggunakan nama Yahweh, maka bagi mereka misi tersebut telah selesai.

2. Komunitas Back to Hebraic Root
Berbeda dengan kelompok pertama, kelompok yang dikategorikan sebagai “Back to Hebraic Root” adalah mereka yang concern [menaruh perhatian] terhadap persoalan penelusuran historis terhadap asal-usul Kekristenan atau akar Kekristenan yang berakar pada Yudaisme. Kelompok ini menekankan pemulihan akar ibrani yang diekspresikan dalam pokok iman, tata ibadah, teologi, etika praktis. Meskipun demikian, dalam kelompok ini ada begitu banyak keragaman pemahaman dan sikap terhadap isu-isu teologis tertentu. Namun secara kasar dapat dikategorikan menjadi beberapa sub kategori sbb:

a. Import pemahaman Back to Hebraic Root
Kelompok ini memiliki visi dan kerinduan untuk memulihkan akar Ibrani Kekristenan dalam pengakuan iman, tata ibadah dan etika praktis. Namun mereka sekedar “mengimport”
pemahaman dan aktualisasi dari fenomena Messianic Judaism yang melanda wilayah Amerika, Eropa, Asia dan Afrika serta Timur Tengah, yaitu fenomena pemulihan tata ibadah pengikut Mesias dari kalangan Yahudi yang tidak mau menyebut diri mereka “Kristen” melainkan “Mesianic Judaism”. Kelompok ini memindahkan begitu saja tata ibadah yang mengekspresikan Keyahudian seperti lagu-lagu Ibrani,
ucapan-ucapan Ibrani, kostum-kostum Ibrani, tradisi-tradisi Ibrani, literatur-literatur rabinik dan melaksanakannya dalam pertemuan-pertemuan ibadah individual dan komunal. Dalam
kelompok inipun masih terbagi dalam beberapa sub kategori mengenai penggunaan nama Yahweh, yaitu:

1) Ha Shem dan Adonai ganti Yahweh
Mereka melarang pengucapan secara literal nama Yahweh, sebagai bentuk pelestarian tradisi dalam Yudaisme yang masih dipelihara secara ketat sampai hari ini di Israel dan komunitas Yudaisme di luar Israel

2) Yahweh ganti ha Shem dan Adonai
Berkebalikan dengan kelompok yaang melarang penggunaan nama Yahweh, kelompok ini justru menyalahkan tradisi Yudaismen tersebut dan menekankan serta meyakinkan bahwa penggunaan nama Yahweh secara literal adalah firmaniah dan historis.

3) Yahshua, bukan Yeshua
Kelompok ini meyakini bahwa nama Sang Juruslamat bukan Yesus atau Yeshua, melainkan Yahshua yang setara dengan penerus Musa, yaitu Yahshua ben Nun.

4) Yeshua, bukan Yahshua
Kelompok ini meyakini bahwa nama Sang Juruslamat
bukan Yesus atau Yahshua, melainkan Yeshua,
sebagaimana tertulis dalam naskah Perjanjian Baru
versi Shem Tov, Du Tillet serta Peshitta

b. Kontekstualisasi pemahaman Back to Hebraic Root
Mereka yang tergabung dalam komunitas ini adalah yang
memiliki visi dan penerapan memperluas aspek pembaruan
bukan hanya berhenti dalam penggunaan nama Yahweh. Jika
pembaruan hanya berhenti dalam penggunaan nama Yahweh
semata, namun pokok iman dan tata ibadah masih dalam baju komunitas yang lama, lalu apa yang berbeda? Ini tentunya bukan visi besar jika sekedar mengganti nama Allah menjadi
Yahweh. Komunitas ini menyadari bahwa pembaruan dan pemulihan merupakan tugas dan panggilan besar yang membutuhkan wawasan yang luas dan kinerja pembaru yang berkualitas serta memiliki kapabilitas dan bukan sekedar emosi atau keberanian semata. Kekhasan komunitas ini adalah dalam dua hal: Pertama, mengadaptasi tata ibadah dan berbagai ekspresi Yudaik sebagai akar iman namun dalam terang kematian dan kebangkitan Yahshua sebagai Mesias. Berbagai tradisi rabinik Yudaisme yang tidak sejalan dengan Torah Yahweh dan Torah Mesias, tidak dipergunakan, seperti penggunaan nama ha Shem atau Adonai bagi Yahweh. Kedua, berani mengambil jarak terhadap fenomena Mesianik Yudaisme dan mengapresiasi serta mereaktualisasi dalam KONTEKS lokal etnis dimana mereka berada. Contoh, dalam konteks komunitas Jawa, maka ekspresi ibadah dalam bahasa Jawa atau idiom-idiom Jawa serta kesenian Jawa dengan leluasa di sintesakan dengan warna Hebraik, sehingga menghasilkan
PENGAYAAN EKSPRESI KULTURAL. Pola ini diisyaratkaan oleh Rasul Paul mengenai “hancurnya perseteruan” antara Yahudi dan Goyim, oleh kematian dan kebangkitan Yahshua Sang Mashiah [Ef 2:15]. Tidak ada perbedaan dan tidak ada sikap-sikap inferiority compleks dari pihak non Yahudi terhadap Yahudi.

Disamping pergerakan Sacred Name yang mengristal menjadi pergerakan Mesianik di beberapa gereja-gereja beraliran Evanggelical [Gereja Alkitab Injili Nusantara], Pentakostal [Gereja
Isa Al Masih, Gereja Pimpinan Roh Kudus, dll], Protestan [Gereja
Kristen Jawa], Kharismatik, telah hadir di Indonesia Gereja dengan
membawa visi yang mendekati visi Mesianik. Mereka concern
dengan pengkajian Kesemitikan, Kembali kepada Akar Kekristenan.
Komunitas ini bernama Gereja Kemah Abraham, pimpinan K.A.M.
Jusuf Roni.
Adapun yang menjadi visi dan misi Gereja Kemah Abraham, sebagaimana diatur dalam Bab I Pasal 3 Tata Gereja Kemah Abraham sbb:

1. Pewaris monoteisme Abraham
2. Membangun pengajaran pencerahan umat
3. Memelihara tradisi semitik

Concern Abuna Jusuf Roni terhadap pengkajian semitik sebagai
akar Kekristenan, nampak juga dalam buku terbarunya (CRITISM: Mengritik Agama Sendiri dan Membela Yang Lain)dimana beliau menyatakan:
“Awalnya, orang-orang Kristen, yaitu para pengikut Yesus, adalah Yahudi. Mereka beribadah pada hari Sabat dan
mengikuti tradisi Yahudi. Bukan hanya itu, mereka bahkan bersama-sama dengan orang-orang Yahudi, sebab mereka dianggap sebagai salah satu sekte Yahudi, yaitu sekte Nasrani…Ketika kekristenan diterima sebagai agama oleh Romawi. Identitas kekristenan semakin menampakkan ciri Hellenisnya. Di bawah payung kekuasaan Romawi, kekristenan bercorak Hellenis yang prinsip-prinsip dasarnya diletakkan oleh Paulus ini menjadi semakin besar dan akhirnya menenggelamkan kekristenan bercorak Yahudi, yang dikembangkan oleh dua belas Rasul lainnya…Ataskenyataan inilah maka aku melihat penting sekali bagi kekristenan untuk kembali ke akarnya. Ia lahir dalam budaya
semitik yang sangat akrab dengan Islam. Ini dapat memudahkan kekristenan untuk masuk dalam dialog dengan Islam…Namun, ternyata untuk kembali ke akar Kekristenan, hambatannya tidak sedikit. Kekristenan ibarat seorang anak yang telah sukses di rantau dan lupa untuk pulang ke kampung halamannya”

Kajian di atas menjadi semacam peta jalan bagi para pembaca bahwa telah terjadi pergeseran dalam tubuh Yudaisme maupun Kekristenan khususnya untuk meredefinisi, merekontruksi eksistensi
akar dan sumber religiusitasnya yang bercorak Timur atau Semitik.
Kita akan mendalami persoalan tersebut dalam kajian-kajian
berikutnya